Ada perbedaan mendasar antara mengubah perilaku dan mentransformasi kepribadian. Seseorang dapat memaksa dirinya untuk tampak sabar, berbicara lembut, atau mengendalikan kemarahan, tetapi perubahan lahiriah belum tentu menunjukkan perubahan pada sumber terdalam dari perilaku itu.
Pertanyaannya menjadi lebih mendasar: apa yang sebenarnya harus berubah agar manusia tidak hanya berperilaku lebih baik, tetapi menjadi pribadi yang lebih baik?
Pertanyaan ini membawa kita kepada persoalan tazkiyah al-nafs. Dalam kerangka pemikiran yang saya kembangkan mengenai spiritualitas, intuisi, kesadaran, dan pembentukan jati diri, penyucian jiwa tidak dapat ditempatkan hanya sebagai praktik keagamaan tambahan. Ia perlu dipahami sebagai proses transformasi manusia dari dalam.
Dalam Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, saya menempatkan pembentukan jati diri dalam hubungan dengan perubahan kesadaran. Pembahasan tersebut membuka persoalan lanjutan: bagaimana perubahan kesadaran itu berlangsung sehingga menghasilkan perubahan kepribadian yang relatif mendalam dan bukan sekadar pengalaman spiritual sesaat?
Di sinilah tazkiyah al-nafs menjadi penting. Tazkiyah Bukan Sekadar “Membersihkan Diri” Al-Qur’an menggunakan istilah tazakkā dalam firman Allah: qad aflaḥa man tazakkā—“sungguh beruntung orang yang menyucikan diri” (Q.S. al-A‘lā 87: 14). Ayat tersebut menarik karena penyucian diri langsung dihubungkan dengan keberuntungan. Ini memberi petunjuk bahwa tazkiyah tidak semestinya dipahami sebagai aktivitas marginal dalam kehidupan manusia. Ia berkaitan dengan arah keberadaan manusia itu sendiri.
Secara konseptual, tazkiyah juga tidak cukup diterjemahkan sebagai tindakan “membersihkan” sesuatu yang kotor. Di dalam tradisi Islam, penyucian jiwa memiliki dimensi negatif sekaligus positif: melepaskan sifat-sifat tercela dan menumbuhkan sifat-sifat terpuji. Kajian mengenai al-Ghazali, misalnya, memperlihatkan hubungan antara tazkiyah al-nafs, mujahadah, pembentukan kebajikan, dan evaluasi diri.
Transformasi kepribadian tidak terjadi hanya ketika seseorang berhasil menghilangkan kemarahan, kesombongan, iri hati, atau keterikatan berlebihan kepada dunia. Kekosongan tersebut harus diisi dengan struktur batin yang baru: kesabaran, keikhlasan, tawadhu, syukur, kasih sayang, tanggung jawab, dan orientasi kepada Allah. Jika tidak, penyucian mudah berubah menjadi sekadar pengendalian diri. Padahal pengendalian diri dan transformasi diri bukanlah hal yang sama.
Seseorang mungkin menahan kemarahan karena takut dinilai buruk. Ia terlihat tenang, tetapi di dalam dirinya kemarahan masih menjadi pusat reaksinya. Dalam keadaan tertentu, ketika kontrol melemah, dorongan tersebut kembali muncul. Transformasi yang lebih dalam terjadi ketika sumber reaksinya berubah: bukan sekadar karena ia menahan kemarahan, tetapi karena cara dirinya memandang ego, orang lain, keadaan, dan Allah telah mengalami perubahan. Di sinilah tazkiyah bergerak dari perilaku menuju struktur kepribadian.
Kepribadian Tidak Hanya Dibentuk oleh Apa yang Tampak
Salah satu persoalan dalam memahami manusia adalah kecenderungan untuk mengidentifikasi diri dengan apa yang dapat diamati: perilaku, peran sosial, pekerjaan, prestasi, status, bahkan citra yang dibangun di hadapan orang lain. Padahal manusia dapat menjalani kehidupan dengan identitas sosial yang kuat sekaligus mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Seseorang dapat mengetahui siapa dirinya secara administratif—nama, pekerjaan, pendidikan, keluarga, jabatan—tetapi belum tentu mengetahui arah terdalam keberadaannya.
Dalam kerangka yang saya kembangkan mengenai pembentukan jati diri, persoalan ini berhubungan dengan perjalanan kesadaran. Penelitian saya mengenai praktik dzikir dan pembentukan jati diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka menunjukkan adanya pembahasan mengenai tiga fase kepribadian: Alam Samar, Alam Sadar, dan Alam Fitrah. Praktik spiritual ditempatkan sebagai bagian dari proses yang menghubungkan pembersihan batin, kesadaran, intuisi, dan pembentukan jati diri.
Dari kerangka tersebut, saya melihat kemungkinan untuk memperluas pemahaman bahwa tazkiyah al-nafs bukan hanya salah satu metode menuju perubahan kepribadian. Ia dapat dipahami sebagai mekanisme transformasi yang menjelaskan bagaimana perubahan batin menjadi perubahan kepribadian.
Perubahan itu bergerak dari pusat ke permukaan. Bukan sebaliknya.
Dari Takhallī Menuju Takhalluq
Dalam tradisi tasawuf, pembicaraan mengenai penyucian jiwa sering dijelaskan melalui proses mengosongkan diri dari sifat tercela dan menghiasi diri dengan sifat terpuji. Kajian kontemporer mengenai al-Ghazali juga menggunakan kerangka takhallī dan taḥallī untuk menjelaskan proses tersebut. Namun, bagi pembentukan jati diri, saya melihat satu tahap yang perlu diberi perhatian lebih besar: takhalluq.
- Takhallī menjawab pertanyaan: apa yang harus ditinggalkan?
- Taḥallī menjawab: kualitas apa yang harus ditumbuhkan?
- Sedangkan takhalluq membawa pertanyaan yang lebih dalam: menjadi pribadi seperti apa manusia itu setelah proses tersebut berlangsung?
Perbedaannya penting.
Seseorang yang berhenti pada takhallī mungkin sibuk membersihkan dirinya dari berbagai sifat buruk. Seseorang yang menjalankan taḥallī mulai membangun kualitas-kualitas kebajikan. Tetapi transformasi kepribadian mencapai kedalaman tertentu ketika kebajikan tidak lagi terasa sebagai tindakan yang dipaksakan dari luar, melainkan menjadi karakter yang relatif menetap dalam diri.
- Sabar tidak lagi sekadar perilaku ketika menghadapi masalah.
- Kejujuran tidak lagi sekadar aturan moral.
- Tawadhu tidak lagi sekadar citra kesalehan.
- Kebaikan mulai menjadi cara berada.
Di sinilah tazkiyah bertemu dengan pembentukan jati diri. Tujuan akhirnya bukan menciptakan manusia yang pandai memainkan peran sebagai “orang baik”, tetapi manusia yang struktur batinnya semakin selaras dengan nilai yang diyakininya.
Mengapa Perubahan Harus Dimulai dari Dalam?
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat penting dalam Q.S. al-Ra‘d 13: 11: Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Ayat ini sering dibaca dalam konteks perubahan sosial. Pembacaan tersebut penting, tetapi prinsipnya juga membuka ruang untuk memahami perubahan manusia pada tingkat personal.
Perubahan yang bertahan membutuhkan perubahan pada sumber internal yang melahirkan tindakan. Jika seseorang hanya mengganti perilaku tanpa mengubah orientasi batinnya, perubahan mudah bersifat situasional. Ia akan baik ketika lingkungan mendukung, tetapi kembali kepada pola lama ketika menghadapi tekanan.
Tazkiyah al-nafs bekerja pada wilayah yang lebih dalam daripada perilaku yang tampak. Ia menyentuh kecenderungan, dorongan, orientasi, cara menilai, cara merespons, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri serta dengan Allah.
Dalam bahasa psikologi kontemporer, kita dapat menemukan istilah seperti self-awareness, regulasi emosi, self-concept, dan transformasi perilaku. Istilah-istilah tersebut membantu menjelaskan sebagian proses perubahan manusia. Sejumlah kajian bahkan mulai mempertemukan tazkiyah al-nafs dengan psikologi dan konseling. (SPAJ)
Tetapi saya tidak melihat alasan untuk menyamakan begitu saja kedua kerangka tersebut. Psikologi modern pada umumnya bekerja dengan perangkat konseptual mengenai fungsi psikologis manusia, sedangkan tazkiyah al-nafs dalam tradisi Islam berangkat dari pandangan yang lebih luas mengenai manusia sebagai makhluk moral dan spiritual yang hidup dalam relasi dengan Allah. Karena itu, keduanya dapat berdialog tanpa harus dilebur menjadi satu.
Psikologi dapat membantu kita memahami bagaimana perubahan berlangsung. Tazkiyah mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai untuk apa manusia berubah dan menuju keadaan keberadaan seperti apa perubahan itu diarahkan. Perbedaan orientasi ini justru membuat dialog keduanya produktif.
Tazkiyah sebagai Proses, Bukan Peristiwa
Salah satu kesalahan dalam memahami transformasi spiritual adalah menganggap perubahan sebagai sebuah pengalaman tunggal. Seseorang memperoleh pengalaman batin yang kuat, merasakan ketenangan, mengalami kesadaran tertentu, kemudian menganggap dirinya telah berubah. Padahal pengalaman dan transformasi bukanlah hal yang identik. Pengalaman dapat membuka pintu. Transformasi menuntut perjalanan.
Tazkiyah al-nafs lebih tepat dipahami sebagai proses berkelanjutan. Ia membutuhkan mujahadah, latihan, pengawasan diri, muhasabah, dan pembiasaan akhlak. Dalam kajian mengenai penerapan tazkiyah dalam konseling Islam, misalnya, proses tersebut dipahami melalui pengenalan diri, mujahadah al-nafs, riyāḍah al-nafs, dan evaluasi melalui muhasabah.
Hal ini memberi konsekuensi penting bagi teori pembentukan jati diri. Jati diri bukan sesuatu yang cukup ditemukan; ia juga harus dibentuk melalui latihan batin. Manusia memang memiliki fitrah, tetapi kehidupan psikologis, sosial, budaya, keinginan, pengalaman, dan kebiasaan dapat menutupi atau mengaburkan orientasi fitriah tersebut. Karena itu, perjalanan spiritual bukan semata pencarian identitas baru, melainkan juga proses menyingkap lapisan-lapisan yang menghalangi manusia dari pengenalan terhadap dirinya.
Di sinilah penyucian menjadi proses pembentukan. Yang dibersihkan bukan eksistensi manusia, melainkan penghalang-penghalang yang membuat manusia gagal mengaktualisasikan kualitas terbaik dari dirinya.
Dari Kepribadian Reaktif Menuju Kepribadian Sadar
Saya ingin mengembangkan kerangka ini lebih jauh dengan membedakan dua bentuk kepribadian: kepribadian reaktif dan kepribadian sadar. Kepribadian reaktif dibentuk terutama oleh dorongan yang belum diolah. Ia mudah dikendalikan oleh marah, takut, keinginan akan pengakuan, iri, keterikatan, atau kebutuhan mempertahankan citra diri.
Dalam keadaan seperti ini, manusia memang bertindak, tetapi tidak sepenuhnya menjadi subjek atas tindakannya sendiri. Ia bereaksi. Sebaliknya, kepribadian sadar memiliki jarak tertentu terhadap dorongan-dorongan tersebut. Ia mampu mengenali kemarahan tanpa menjadi kemarahan itu sendiri. Ia dapat merasakan keinginan tanpa harus selalu mengikutinya. Ia mampu menerima kritik tanpa langsung membangun pertahanan ego.
Kesadaran semacam ini tidak berarti manusia kehilangan nafs. Yang berubah adalah hubungan manusia dengan dorongan tersebut. Di sinilah mujahadah al-nafs menjadi penting. Ia bukan perang untuk menghancurkan diri, tetapi disiplin untuk menata hubungan manusia dengan dorongan-dorongan yang berada dalam dirinya. Transformasi kepribadian dengan demikian bukan penghapusan kemanusiaan, melainkan penataan kemanusiaan.
Ketika Penyucian Menjadi Pembentukan Jati Diri
Jika kerangka tersebut dikembangkan lebih lanjut, saya melihat tazkiyah al-nafs sebagai sebuah proses dengan tiga gerakan yang saling berhubungan.
- Pertama, disidentifikasi dari sifat-sifat yang merusak. Manusia belajar melihat bahwa dirinya tidak identik dengan setiap dorongan yang muncul di dalam dirinya.
- Kedua, internalisasi kualitas kebajikan. Nilai-nilai seperti sabar, ikhlas, syukur, tawadhu, kasih sayang, dan tanggung jawab tidak berhenti sebagai pengetahuan moral, tetapi dilatih sampai memengaruhi cara berpikir dan bertindak.
- Ketiga, integrasi kepribadian. Apa yang diyakini, dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan semakin memiliki arah yang sama.
Pada tahap ketiga inilah pembentukan jati diri memperoleh makna yang lebih mendalam. Manusia tidak lagi hidup dengan banyak “diri” yang saling bertentangan: satu diri di hadapan masyarakat, satu diri di hadapan keluarga, satu diri di ruang pribadi, dan satu diri ketika tidak ada yang melihat.
Transformasi spiritual justru mengarah kepada integritas. Ada kesatuan yang semakin kuat antara batin dan lahir, antara keyakinan dan tindakan, antara kesadaran dan akhlak.
Tazkiyah dan Fitrah. Pembicaraan mengenai tazkiyah akhirnya membawa kita kembali kepada persoalan fitrah. Jika penyucian hanya dipahami sebagai penciptaan manusia yang sama sekali baru, maka kita menghadapi persoalan: mengapa manusia harus “menjadi orang lain” untuk menjadi baik? Dalam perspektif fitrah, persoalannya dapat dibaca secara berbeda. Transformasi bukan terutama penciptaan hakikat manusia yang baru, melainkan pemulihan kemampuan manusia untuk hidup sesuai dengan orientasi terdalam yang benar.
- Karena itu, proses tazkiyah memiliki dimensi “kembali”.
- Kembali kepada kesadaran.
- Kembali kepada kejernihan.
- Kembali kepada orientasi ketuhanan.
- Kembali kepada kualitas manusiawi yang tidak dikendalikan oleh ego.
Dalam kerangka ini, tazkiyah al-nafs dapat ditempatkan sebagai jembatan antara spiritualitas dan pembentukan jati diri. Ia menjelaskan mengapa pengalaman spiritual harus berujung pada perubahan karakter. Jika spiritualitas tidak mengubah cara manusia memperlakukan dirinya, orang lain, dan kehidupannya, maka pengalaman spiritual tersebut belum mencapai seluruh kemungkinan transformatifnya.
Di sinilah saya melihat satu prinsip penting untuk dikembangkan: kedalaman transformasi spiritual seharusnya dibaca melalui perubahan kualitas kepribadian, bukan semata-mata melalui intensitas pengalaman batin.
Pengalaman batin mungkin sulit diukur dan sangat personal. Sebaliknya, perubahan kepribadian dapat terlihat dalam pola hidup: bagaimana seseorang menghadapi konflik, menggunakan kekuasaan, menerima kekurangan, memperlakukan orang yang berbeda, menghadapi kegagalan, mengelola keinginan, dan mempertanggungjawabkan keputusan.
Seseorang mungkin memiliki pengalaman spiritual yang mengesankan, tetapi jika ia semakin sombong, mudah merendahkan orang lain, haus pengakuan, atau tidak mampu mengendalikan dorongan dirinya, maka pengalaman tersebut belum menunjukkan transformasi yang matang.
Sebaliknya, seseorang yang semakin sederhana, jujur, sabar, sadar terhadap dirinya, mampu mengakui kesalahan, dan semakin bertanggung jawab menunjukkan bahwa proses batinnya mulai menghasilkan perubahan eksistensial. Dengan ukuran ini, tazkiyah tidak terjebak menjadi pencarian pengalaman luar biasa. Ia kembali kepada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit: Apakah saya menjadi manusia yang lebih baik?
Pertanyaan itu kemudian berkembang:
- Lebih baik menurut ukuran siapa?
- Untuk tujuan apa?
- Menuju pusat keberadaan yang mana?
Dalam perspektif Islam, transformasi kepribadian akhirnya tidak berhenti pada peningkatan fungsi psikologis. Ia diarahkan kepada hubungan yang semakin benar dengan Allah dan kepada terwujudnya akhlak yang baik dalam kehidupan nyata.
Dari pembahasan ini, saya melihat bahwa tazkiyah al-nafs dapat ditempatkan lebih jauh daripada sekadar metode penyucian jiwa. Ia merupakan paradigma transformasi kepribadian.
Paradigma ini berangkat dari asumsi bahwa manusia memiliki dimensi batin yang memengaruhi perilaku; bahwa dorongan jiwa dapat membentuk pola kehidupan; bahwa kesadaran dapat dilatih; bahwa akhlak dapat ditumbuhkan; dan bahwa perubahan kepribadian yang mendalam membutuhkan proses spiritual, moral, dan reflektif yang berkesinambungan.
Dalam kerangka pembentukan jati diri, tazkiyah menjadi proses yang menghubungkan kesadaran dengan karakter, karakter dengan tindakan, dan tindakan dengan orientasi hidup.
Karena itu, jati diri tidak cukup dicari dengan bertanya, “Siapa saya?” Pertanyaan itu harus dilanjutkan: “Apa yang sedang saya jadikan diri saya?” Dan lebih jauh lagi: “Melalui penyucian seperti apa saya dapat kembali menjadi manusia sebagaimana fitrah mengarahkannya?” Pertanyaan terakhir inilah yang membawa pembahasan tentang spiritualitas dari wilayah pengalaman menuju wilayah transformasi.
Sebab tujuan terdalam dari penyucian jiwa bukan sekadar memiliki hati yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, atau perilaku yang lebih baik. Tujuannya adalah terbentuknya manusia yang semakin utuh manusia yang kesadarannya, akhlaknya, kehendaknya, dan kehidupannya bergerak menuju satu orientasi yang benar.
Tazkiyah al-nafs bukan proses meninggalkan diri. Ia adalah proses menyingkap, menata, dan membentuk diri sehingga manusia semakin mampu menjadi dirinya dalam cahaya fitrah.
Sumber
- Yedi Supriadi, Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, Cirebon: CV Iman Rijalullah, 2021. Informasi bibliografis karya ini terverifikasi dalam dokumen karya Yedi Supriadi yang tersedia di situsnya.
- Yedi Supriadi, “Dzikir, Spiritualitas dan Intuisi: Studi tentang Pembentukan Jati Diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka,” Irsyad: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam, 8(3), 2020, 235–254, DOI 10.15575/irsyad.v8i3.2000.
- Al-Qur’an, Q.S. al-A‘lā 87:14.
- Al-Qur’an, Q.S. al-Ra‘d 13:11.
- Ahmad Farid Fanani, Rifat Syauqi Efendi, dan Shofiyullah Muzammil, “Tazkiyah Al-Nafs in Al-Ghazali’s Thought: A Sufi Framework for Enhancing Mental Resilience among Generation-Z,” Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam, 10(1), 2026, 77–116, DOI 10.21111/tasfiyah.v10i1.4.
- Salasiah Hanin Hamjah, “Tazkiyah al-Nafs in the Islamic Counseling Process from al-Ghazali’s Perspective,” Ibn Khaldun International Journal of Economic, Community Empowerment and Sustainability, 1(1), 2022.