Membaca Jiwa, Mendengar Ruh, Menguji Kekuasaan

 

Kekuasaan sering kali diuji dari luar: apakah ia sah secara hukum, apakah ia memperoleh mandat, apakah ia mampu mengatur lembaga, apakah keputusan-keputusannya efektif, dan apakah masyarakat mematuhinya. Tetapi ada satu ruang yang jarang diperiksa dengan kesungguhan yang sama: ruang batin orang yang memegang kekuasaan.

Padahal, sebelum kekuasaan menjadi keputusan, ia terlebih dahulu melewati manusia. Sebelum menjadi kebijakan, ia melewati niat, persepsi, hasrat, ketakutan, ambisi, ingatan, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Karena itu, persoalan moral kekuasaan tidak cukup diselesaikan dengan menambah aturan dari luar. Kita juga perlu bertanya: jiwa seperti apa yang sedang menjalankan kekuasaan?

Pertanyaan ini membawa kita pada hubungan yang lebih dalam antara spiritualitas dan kepemimpinan. Spiritualitas, dalam pembahasan ini, bukan sekadar suasana religius, simbol kesalehan, atau kemampuan seseorang berbicara tentang Tuhan. Ia menyentuh hubungan manusia dengan sumber makna yang melampaui kepentingan dirinya. Karena itu, spiritualitas baru memiliki arti moral ketika ia mampu mengubah cara seseorang menggunakan kekuasaan.

Membaca Kitab Diri pada akhirnya bukan sekadar tindakan reflektif untuk mengetahui siapa diri seseorang, melainkan suatu proses epistemik dan spiritual untuk mengenali kemungkinan-kemungkinan keberadaan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Di dalam diri manusia terdapat potensi yang tidak hadir secara acak. Ia berkelindan dengan fitrah, kecenderungan, kemampuan, pengalaman, lingkungan, serta rangkaian keadaan yang membentuk perjalanan eksistensial seseorang. Dalam horizon keimanan, seluruh konfigurasi tersebut tidak berdiri di luar pengetahuan dan kehendak Allah. Al-Qur’an menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan menurut ukuran atau ketetapan tertentu (Q.S. al-Qamar 54: 49). Ayat ini memberikan dasar teologis bagi pemahaman bahwa keberadaan manusia berlangsung dalam suatu tatanan yang berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah, sekaligus menuntut kehati-hatian agar konsep takdir tidak direduksi menjadi determinisme yang meniadakan ikhtiar manusia. Persoalannya diperluas: jika kehidupan batin memengaruhi cara manusia melihat dan bertindak, bagaimana ia berhubungan dengan legitimasi kekuasaan? Dan lebih jauh, apakah kekuasaan dapat disebut sah secara moral hanya karena ia sah secara institusional?

 

Kekuasaan yang Sah Belum Tentu Bermoral

Legitimasi biasanya dibicarakan dalam bahasa kelembagaan. Seseorang memperoleh kewenangan melalui prosedur tertentu, jabatan diberikan berdasarkan aturan, keputusan dibuat melalui mekanisme yang diakui, dan tindakan kekuasaan dibatasi oleh hukum.

Semua itu penting, masyarakat modern tidak dapat menggantungkan pemerintahan pada kualitas batin seseorang semata. Institusi, hukum, prosedur, transparansi, dan akuntabilitas tetap diperlukan karena manusia tidak selalu mampu mengendalikan dirinya sendiri. Sistem yang baik tetap dijalankan oleh manusia. Aturan dapat membatasi tindakan, tetapi tidak selalu dapat menghapus ambisi.

Legitimasi mempunyai sekurang-kurangnya dua lapisan yang perlu dibedakan. Pertama, legitimasi eksternal, yaitu pengakuan yang diberikan oleh hukum, institusi, prosedur, atau masyarakat. Kedua, legitimasi moral, yaitu kesesuaian penggunaan kekuasaan dengan tanggung jawab etis yang melekat pada kekuasaan tersebut. Keduanya tidak boleh dicampuradukkan. Sebuah tindakan dapat memiliki dasar hukum tetapi tetap dipertanyakan secara moral. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki niat yang baik tetapi tidak memiliki kewenangan yang sah untuk bertindak. Karena itu, moralitas publik tidak dapat menggantikan institusi, dan institusi juga tidak dapat menggantikan moralitas. Di sinilah pembacaan terhadap jiwa menjadi relevan.

 

Jiwa Bukan Sekadar Ruang Privat

Dalam banyak pembicaraan modern, kehidupan batin sering ditempatkan sebagai wilayah privat. Keyakinan, refleksi diri, rasa bersalah, dorongan batin, dan hubungan seseorang dengan Tuhan dianggap sebagai persoalan personal yang sebaiknya dipisahkan dari ruang publik. Pemisahan tersebut memiliki alasan yang penting, terutama dalam masyarakat yang plural. Negara tidak seharusnya mengukur kesalehan batin warga berdasarkan ukuran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara publik. Tetapi membedakan ruang privat dan ruang publik tidak berarti kehidupan batin sama sekali tidak mempunyai konsekuensi publik.

Seorang pemimpin membawa dirinya ke dalam jabatan. Ia membawa cara memandang manusia, cara memahami keberhasilan, cara merespons kritik, cara menghadapi godaan, bahkan cara memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan. Semua itu berasal dari wilayah yang sebagian besar dibentuk jauh sebelum sebuah keputusan diumumkan kepada publik.

Persoalan spiritualitas dalam kepemimpinan bukan pertanyaan apakah seorang pemimpin tampak religius. Pertanyaannya jauh lebih berat: apa yang dilakukan keyakinan batinnya terhadap cara ia menggunakan kekuasaan?

Spiritualitas yang hanya menghasilkan simbol belum tentu menghasilkan moralitas. Bahkan seseorang dapat menggunakan bahasa agama untuk memperkuat citra dirinya tanpa mengalami perubahan mendasar dalam cara memperlakukan manusia. Di sinilah perlu dibedakan antara spiritualitas sebagai identitas dan spiritualitas sebagai transformasi.

Yang pertama dapat dikenali dari simbol, bahasa, afiliasi, atau ritual. Yang kedua seharusnya terlihat dari perubahan hubungan seseorang dengan ego, kepentingan, penderitaan orang lain, tanggung jawab, dan kekuasaan itu sendiri.

 

Membaca Jiwa Sebelum Membaca Kekuasaan

Dalam perspektif Islam, kehidupan batin tidak terpisah dari pertanggungjawaban moral. Al-Qur’an menghubungkan pendengaran, penglihatan, dan fu’ād dengan pertanggungjawaban manusia. Q.S. al-Isrā’ 17:36 bahkan mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya, karena pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.  Ayat tersebut dapat dibaca sebagai prinsip epistemik sekaligus etis. Manusia tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, tetapi juga atas bagaimana ia menerima, mempercayai, dan mengikuti sesuatu.

Kekuasaan sering bekerja melalui informasi. Pemimpin menerima laporan, membaca data, mendengar nasihat, melihat keadaan masyarakat, lalu mengambil keputusan. Jika proses menerima pengetahuan itu sudah terdistorsi oleh kepentingan pribadi, prasangka, ketakutan, atau keinginan mempertahankan posisi, maka masalah moral telah muncul bahkan sebelum keputusan dibuat.

Membaca jiwa dapat dipahami sebagai usaha untuk mengenali bagaimana kondisi batin memengaruhi cara seseorang mengetahui. Orang yang dikuasai ambisi dapat membaca kritik sebagai ancaman. Orang yang terikat pada citra diri dapat membaca perbedaan pendapat sebagai penghinaan. Orang yang terlalu mencintai kekuasaan dapat membaca keberhasilan lembaga sebagai keberhasilan dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang yang memiliki jarak batin terhadap egonya lebih mungkin melihat kekuasaan sebagai amanah yang tidak identik dengan dirinya. Di sinilah kesadaran menjadi penting. Kesadaran bukan sekadar kemampuan mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia juga mencakup kemampuan melihat apa yang sedang terjadi di dalam diri ketika seseorang merespons dunia.

 

Sumber

  • Al-Qur’an, Q.S. al-Isrā’ 17:36.
  • Eleftheria Egel dan Louis W. Fry, “Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership,” Public Integrity 19, no. 1 (2017), 77–95.
  • Eric B. Dent, M. Eileen Higgins, dan Deborah M. Wharff, “Spirituality and leadership: An empirical review of definitions, distinctions, and embedded assumptions,” The Leadership Quarterly 16, no. 5 (2005), 625–653.
  • G. James Lemoine, Chad A. Hartnell, dan Hannes Leroy, “Taking Stock of Moral Approaches to Leadership: An Integrative Review of Ethical, Authentic, and Servant Leadership,” Academy of Management Annals (2019).
  • Lindsay J. Thompson, “Moral Leadership in a Postmodern World,” Journal of Leadership & Organizational Studies 11, no. 1 (2004), 27–37.
  • Omar N. Solinger, Paul G. W. Jansen, dan Joep P. Cornelissen, “The Emergence of Moral Leadership,” Academy of Management Review (2020).
  • Supriadi, Yedi. Pembangkitan Alam Bawah Sadar.
  • Supriadi, Yedi. Filsafat Jiwa (Sirrul Asrar).
  • Supriadi, Yedi. Ilmu Komunikasi Alam Ruh: Keterhubungan Manusia dengan Tuhan, Pembacaan Jiwa, Pertumbuhan Potensi, dan Kepemimpinan Diri.
  • Supriadi, Yedi. Psikologi Kepribadian Islami.
  • Supriadi, Yedi. Psikologi Perkembangan Islami.