Fitrah sebagai Dasar Ontologis Jati Diri Manusia

 

Manusia dapat mengenal banyak hal tentang dirinya, tetapi belum tentu mengenal dirinya sendiri. Ia dapat mengetahui nama, pekerjaan, pendidikan, asal-usul, bahkan berbagai peran sosial yang melekat padanya. Namun semua itu belum menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah manusia sebelum ia dibentuk oleh lingkungan, pengalaman, ambisi, dan berbagai identitas sosialnya?

Pertanyaan tersebut membawa kita dari wilayah psikologi menuju wilayah ontologi. Jati diri bukan hanya persoalan bagaimana seseorang memandang dirinya, melainkan juga persoalan tentang apa hakikat manusia itu sendiri.

Dalam Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, saya mengembangkan pembacaan tentang perjalanan pembentukan jati diri melalui tiga fase: alam samar, alam sadar, dan alam fitrah. Kerangka tersebut pada mulanya membantu menjelaskan perubahan kesadaran manusia. Namun jika ditempatkan lebih jauh dalam perspektif ontologis, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa perjalanan kesadaran itu memiliki arah menuju fitrah? Apa yang membuat fitrah menjadi titik penting dalam pembentukan jati diri?

Saya melihat bahwa jawabannya terletak pada cara kita memahami fitrah bukan sekadar sebagai keadaan psikologis, tetapi sebagai dasar keberadaan manusia.

 

Fitrah Bukan Sekadar Potensi Psikologis

Al-Qur’an memberikan salah satu landasan paling penting dalam Q.S. al-Rūm 30:30. Manusia diperintahkan untuk menghadapkan dirinya kepada agama secara hanīf, kemudian ayat tersebut menghubungkannya dengan fiṭrat Allāh allatī faṭara al-nāsa ‘alayhā—fitrah Allah yang dengannya manusia diciptakan. Ayat itu kemudian menyebut agama yang lurus dan menegaskan bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Ayat tersebut penting karena fitrah tidak ditempatkan semata-mata sebagai perasaan atau kecenderungan psikologis. Fitrah dikaitkan dengan tindakan penciptaan: faṭara al-nāsa. Dengan demikian, pembicaraan tentang fitrah menyentuh pertanyaan tentang asal dan struktur dasar manusia.

Di sini perlu kehati-hatian. Fitrah tidak tepat jika langsung disamakan dengan konsep modern tentang personality, self-concept, atau potensi psikologis. Konsep-konsep tersebut umumnya digunakan untuk menjelaskan bagaimana seseorang memahami dirinya, berkembang, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Fitrah mempunyai cakupan yang lebih mendasar karena berhubungan dengan cara Islam memahami manusia sebagai makhluk yang memiliki hubungan asal dengan Penciptanya.

Jati diri dalam perspektif spiritual tidak cukup dipahami sebagai konstruksi sosial atau hasil pengalaman individual. Identitas memang dibentuk oleh pengalaman, tetapi pengalaman bukanlah satu-satunya dasar keberadaan manusia. Ada sesuatu yang lebih dalam. Di sanalah fitrah memperoleh kedudukan ontologisnya.

 

Jika Jati Diri Hanya Dibentuk oleh Lingkungan

Salah satu asumsi yang perlu diuji adalah anggapan bahwa manusia pada dasarnya menjadi dirinya melalui lingkungan. Keluarga, pendidikan, budaya, agama, pekerjaan, relasi sosial, dan pengalaman hidup memang sangat menentukan pembentukan kepribadian. Tetapi jika seluruh jati diri hanya merupakan hasil pembentukan eksternal, pertanyaan berikutnya sulit dijawab: apa yang menjadi dasar untuk menilai bahwa suatu pembentukan diri itu benar atau menyimpang?

  1. Jika masyarakat membentuk seseorang menjadi materialistis, apakah materialisme otomatis menjadi hakikat dirinya?
  2. Jika lingkungan membentuk seseorang menjadi agresif, apakah agresivitas merupakan jati dirinya?
  3. Jika seseorang sepanjang hidup mengejar pengakuan sosial, apakah kebutuhan akan pengakuan itu identitas terdalamnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara diri yang terbentuk dan diri yang menjadi dasar keberadaan. Dalam kerangka yang saya kembangkan, perbedaan ini penting. Alam samar dapat dibaca sebagai keadaan ketika manusia belum mampu melihat struktur terdalam dirinya. Ia hidup, berpikir, memilih, dan bertindak, tetapi belum tentu memiliki kesadaran yang cukup mengenai arah keberadaannya. Alam sadar membuka kemungkinan integrasi yang lebih tinggi antara akal, hati, dan kesadaran spiritual. Sementara alam fitrah menunjuk pada keadaan ketika kehidupan mulai bergerak selaras dengan dasar keberadaan manusia. Dengan pembacaan ini, fitrah bukan sekadar titik awal kronologis. Ia sekaligus dapat menjadi arah kepulangan eksistensial. Manusia tidak sedang menciptakan hakikat dirinya dari ketiadaan. Ia sedang berusaha menemukan, membersihkan, dan mengaktualisasikan sesuatu yang telah menjadi bagian mendasar dari penciptaannya.

 

Fitrah sebagai Orientasi, Bukan Identitas yang Beku

Ada bahaya lain dalam memahami fitrah: menjadikannya sebagai sesuatu yang statis. Jika fitrah dianggap sebagai keadaan yang otomatis sempurna sejak manusia lahir, kita akan kesulitan menjelaskan mengapa manusia dapat mengalami penyimpangan, kebingungan, keterasingan, atau kehilangan arah. Tradisi hadis tentang fitrah memang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah, sekaligus menunjukkan kuatnya pengaruh lingkungan dalam perjalanan berikutnya. Hadis tersebut terdapat dalam Ṣaḥīḥ Muslim no. 2658. Saya lebih melihat fitrah sebagai dasar dan orientasi yang harus diaktualisasikan, bukan identitas psikologis yang selesai begitu saja.

Di sinilah konsep transformasi menjadi penting. Manusia dapat memiliki fitrah, tetapi tidak selalu hidup secara fitri. Ia dapat memiliki kecenderungan kepada kebenaran, tetapi memilih kebalikan dari kebenaran. Ia dapat memiliki kemampuan mengenali makna, tetapi menenggelamkan dirinya dalam kesibukan yang tidak memberi arah. Ia dapat memiliki qalb, tetapi membiarkannya tertutup oleh dominasi nafs. Ia dapat memiliki ‘aql, tetapi menggunakannya hanya untuk membenarkan keinginan.

Maka persoalan jati diri bukan hanya siapa saya?, tetapi juga: Apakah cara saya hidup sesuai dengan dasar keberadaan saya?

Pertanyaan kedua jauh lebih dalam. Dari Fitrah Menuju Struktur Batin Manusia

Jika fitrah merupakan dasar ontologis, maka perjalanan menuju jati diri tidak dapat hanya dilakukan melalui perubahan perilaku lahiriah. Diperlukan transformasi struktur batin.

Di sinilah pembahasan tentang nafs, qalb, ‘aql, dan rūḥ memperoleh relevansinya. Keempat istilah tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai sinonim. Masing-masing memiliki sejarah konseptual yang panjang dalam khazanah Islam. Namun dalam kerangka pengembangan jati diri, semuanya dapat dibaca sebagai dimensi yang saling berhubungan dalam kehidupan manusia.

Nafs berkaitan dengan dinamika diri dan dorongan-dorongannya. ‘Aql memungkinkan manusia memahami, menimbang, dan membedakan. Qalb menunjuk pada pusat batin yang dalam tradisi Islam memiliki hubungan erat dengan kesadaran moral dan spiritual. Sementara rūḥ membawa pembahasan manusia ke wilayah yang tidak dapat direduksi begitu saja menjadi proses psikologis.

Manusia bukan hanya makhluk yang berpikir. Ia juga makhluk yang menginginkan, merasakan, menyadari, mengingat, mencintai, dan mencari makna. Persoalan muncul ketika dimensi-dimensi tersebut tidak berada dalam keteraturan. Akal dapat menjadi alat bagi nafs. Perasaan dapat dikuasai dorongan sesaat. Pengetahuan dapat bertambah tanpa menghasilkan kebijaksanaan. Bahkan aktivitas keagamaan dapat berlangsung secara formal tanpa transformasi batin. Maka aktualisasi fitrah menuntut lebih daripada penambahan informasi. Ia menuntut penataan manusia dari dalam.

 

Krisis Jati Diri sebagai Krisis Orientasi

Dari sini persoalan jati diri manusia modern dapat dilihat dengan cara yang sedikit berbeda. Krisis jati diri tidak selalu berarti seseorang tidak mengetahui siapa dirinya. Sering kali justru sebaliknya: seseorang memiliki terlalu banyak identitas, tetapi kehilangan pusat yang menyatukannya.

Ia adalah profesional di tempat kerja, anggota keluarga di rumah, pengguna media sosial di ruang digital, anggota komunitas tertentu dalam kehidupan sosial, dan mungkin seorang Muslim dalam kehidupan keagamaannya. Semua identitas itu nyata. Namun belum tentu semuanya berakar pada kesadaran tentang tujuan keberadaan.

Maka krisis jati diri dapat dipahami sebagai krisis orientasi ontologis. Manusia mengetahui banyak hal tentang apa yang dimilikinya, tetapi kehilangan pertanyaan tentang untuk apa ia ada. Di sinilah konsep fitrah memberikan koreksi penting. Jika manusia memiliki dasar keberadaan yang berhubungan dengan Allah, maka ukuran jati diri tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada ukuran eksternal seperti status, popularitas, produktivitas, kekayaan, atau pengakuan sosial.

Ukuran-ukuran tersebut mungkin berguna dalam kehidupan, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan hakikat manusia.

Al-Qur’an bahkan menghubungkan fitrah dengan agama yang lurus. Dalam pembacaan tafsir klasik, termasuk penjelasan al-Ṭabarī dan Ibn Kathīr atas Q.S. al-Rūm 30:30, fitrah berkaitan dengan penciptaan manusia dalam keadaan yang mengarah kepada pengenalan dan pengesaan Allah.  Orientasi kepada Allah bukan tambahan eksternal bagi jati diri seorang manusia. Dalam perspektif ini, orientasi tersebut justru berkaitan dengan struktur terdalam keberadaannya.

 

Fitrah dan Kebebasan Manusia

Namun di sinilah muncul persoalan filosofis yang tidak boleh diabaikan. Jika manusia memiliki fitrah yang mengarah kepada kebenaran, apakah manusia masih bebas?

Saya melihat bahwa keberadaan fitrah tidak menghapus kebebasan. Justru fitrah membuat kebebasan memiliki arah moral. Kebebasan tanpa orientasi dapat berubah menjadi sekadar kemampuan memilih. Manusia memang bebas memilih, tetapi tidak setiap pilihan membawa manusia semakin dekat kepada dirinya yang terdalam.

Dalam pengertian ini, kebebasan bukan hanya kemampuan mengatakan ya atau tidak. Kebebasan juga menyangkut kemampuan untuk membebaskan diri dari dominasi dorongan yang menjauhkan manusia dari kebenaran. Transformasi spiritual bukan penghancuran diri, melainkan pembebasan diri dari lapisan-lapisan yang mengaburkan fitrah.

Konsep tazkiyah al-nafs menjadi penting dalam arah pemikiran ini. Penyucian jiwa tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai penghilangan sesuatu yang buruk, tetapi sebagai proses penataan kembali kehidupan batin sehingga manusia mampu menjalankan fungsi kemanusiaannya secara lebih utuh. Di sinilah gagasan tentang alam fitrah memperoleh makna yang lebih dinamis. Alam fitrah bukan sekadar tempat manusia “kembali”. Ia adalah keadaan ketika kesadaran, akal, hati, jiwa, dan tindakan mulai menemukan keterarahan yang sesuai dengan hakikat penciptaannya.

 

Jati Diri sebagai Aktualisasi Fitrah

Dari seluruh pembahasan tersebut, saya ingin mengembangkan satu gagasan lebih jauh: jati diri sejati tidak terutama ditemukan dengan menciptakan identitas baru, melainkan dengan mengaktualisasikan fitrah melalui transformasi kesadaran.

Gagasan ini memperluas kerangka tiga fase yang sebelumnya saya gunakan. Alam samar, alam sadar, dan alam fitrah tidak harus dipahami hanya sebagai tahapan psikologis yang linear. Ketiganya dapat dibaca sebagai tiga cara manusia berada terhadap dirinya sendiri.

  1. Pada alam samar, manusia lebih banyak hidup dari lapisan luar dirinya.
  2. Pada alam sadar, ia mulai mempertanyakan dan mengintegrasikan kehidupannya.
  3. Pada alam fitrah, ia mulai mengalami keselarasan antara kesadaran dirinya dan orientasi transendennya.

Perjalanan menuju jati diri bukan perjalanan untuk menjadi seseorang yang sama sekali baru. Ia lebih menyerupai perjalanan untuk menyingkap kembali pusat diri yang tertutup oleh kebiasaan, kepentingan, ego, dan berbagai bentuk keterasingan.

Di sinilah spiritualitas dan intuisi memperoleh tempatnya. Dalam penelitian saya mengenai Majelis Dzikir Rijalullah, praktik spiritual dan dzikir dikaitkan dengan proses pembersihan hati dan pikiran, peningkatan kesadaran, hingga munculnya pengalaman firasat dan intuisi dalam perjalanan pembentukan jati diri. Penelitian tersebut juga menggunakan tiga fase alam samar, alam sadar, dan alam fitrah sebagai kerangka pembentukan jati diri. Namun pembacaan ontologis memungkinkan kita melangkah lebih jauh: intuisi tidak seharusnya dipahami sebagai pengganti akal atau sebagai setiap perasaan yang muncul secara spontan. Intuisi baru memiliki nilai spiritual apabila ditempatkan dalam keseluruhan proses pemurnian dan integrasi batin. Dengan demikian, spiritualitas tidak membawa manusia menjauh dari akal, melainkan membantu menempatkan akal dalam keseluruhan struktur kemanusiaannya.

 

Menemukan Diri dengan Kembali kepada Dasar Keberadaan

Pada akhirnya, pertanyaan tentang jati diri membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam tentang keberadaan. Manusia dapat terus membangun identitas, tetapi identitas yang terus berubah tidak dengan sendirinya menjelaskan hakikat dirinya. Ia membutuhkan dasar yang lebih dalam daripada penilaian sosial dan perubahan pengalaman, konsep fitrah menawarkan dasar tersebut.

Fitrah mengingatkan bahwa manusia memiliki asal, arah, dan tujuan. Ia bukan sekadar organisme yang berkembang, bukan sekadar pribadi yang dikonstruksi masyarakat, dan bukan pula kesadaran yang bebas tanpa orientasi. Dalam perspektif spiritual Islam, manusia adalah makhluk yang keberadaannya mempunyai hubungan dengan Allah sejak dasar penciptaannya. Pencarian jati diri sesungguhnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Siapakah saya?” Pertanyaan itu perlu diteruskan: “Dari mana keberadaan saya berasal, kepada siapa saya kembali, dan kehidupan seperti apa yang sesuai dengan dasar penciptaan saya?”

Dari sinilah fitrah dapat dipahami sebagai dasar ontologis jati diri. Manusia menemukan dirinya bukan ketika ia berhasil mengumpulkan sebanyak mungkin identitas, melainkan ketika ia mampu menembus lapisan-lapisan yang menutupi dirinya dan kembali kepada orientasi terdalam keberadaannya. Jati diri, dalam pengertian ini, bukan sekadar sesuatu yang harus ditemukan. Jati diri adalah fitrah yang disadari, dimurnikan, dan diwujudkan dalam kehidupan.

 

Sumber

  • Yedi Supriadi, Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, Cirebon: Iman Rijalullah, 2021. Informasi bibliografis dan isi pokok karya tersebut terverifikasi melalui publikasi dan rujukan yang tersedia.
  • Yedi Supriadi, “Dzikir, Spiritualitas dan Intuisi: Studi tentang Pembentukan Jati Diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka,” Irsyad: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam, Vol. 8 No. 3 (2020), hlm. 235–254, DOI 10.15575/irsyad.v8i3.2000.
  • Al-Qur’an, Q.S. al-Rūm 30:30.
  • Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2658 tentang fitrah.
  • Abū Ja‘far al-Ṭabarī, tafsir Q.S. al-Rūm 30:30.
  • Ibn Kathīr, tafsir Q.S. al-Rūm 30:30.