BARU AKU SADARI SIAPA DIRI INI, TERNYATA BENAR BAHWA DIRIKU ADALAH DIRINYA

 

Membaca Rupa Ilahi dalam Diri: Ontologi Śūrat Allāh dan Dialektika Transformasi Diri

Di hadapan cermin, manusia senantiasa berhadapan dengan dualitas yang membingungkan: keintiman eksistensial yang begitu erat sekaligus asing. Kita mengenali kontur wajah, bentuk fisik, dan rekaman ingatan yang melingkupi eksistensi harian. Namun, ketika pertanyaan mendasar diajukan—siapa sebenarnya yang sedang memandang dari balik manik mata tersebut?—kesadaran kerap terbentur pada batas-batas empiris yang dangkal. Kebanyakan tradisi pemikiran modern cenderung mereduksi identitas manusia menjadi sekadar himpunan fungsi biologis, konstruksi sosial, atau dinamika psiko-organik yang acak.

Pertanyaan mengenai hakikat diri ini sejatinya merupakan titik berangkat bagi seluruh bangunan epistemologi dan ontologi spiritual. Dalam pemikiran yang telah saya petakan melalui karya-karya sebelumnya mengenai Filsafat Jiwa, Filsafat Qalbu, hingga Psikologi Alam Bawah Sadar, pengenalan terhadap diri (ma‘rifat al-nafs) bukanlah sekadar proyek psikologis introspektif, melainkan sebuah penyingkapan ontologis. Eksistensi manusia tidak dapat dipahami secara utuh tanpa melacak akar primordialnya yang terhubung langsung dengan Realitas Mutlak. Persoalan mendasar yang hendak saya bedah dalam artikulasi ini adalah: bagaimana kita memahami gagasan bahwasanya setiap manusia diciptakan dalam “Rupa” Sang Maha Kuasa (‘alā ṣūratih), dan bagaimana penyingkapan hakikat ini mentransformasi struktur kesadaran serta psikologi batiniah manusia?

Epistemologi Śūrat Allāh: Melampaui Antropomorfisme

Diskursus mengenai “Rupa Tuhan” (Śūrat Allāh) sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem yang sama-sama menyesatkan: literalisme antropomorfis (tasbyīh) yang membayangkan Tuhan dalam bentuk fisik material, atau rasionalisme ekstrem (ta‘ṭīl) yang mengosongkan makna teks hingga menghilangkan dimensi keintiman antara Al-Khāliq dan makhluk.

Gagasan ini berakar pada pilar epistemologis sebagaimana terekam dalam risalah kenabian yang menegaskan bahwa Allah menciptakan Adam sesuai dengan Rupa-Nya. Dalam tradisi tasawuf dan filsafat Islam, seperti yang dikembangkan oleh Abū Ḥāmid al-Ghazālī dan dilanjutkan oleh Ibn ‘Arabī, ṣūrah di sini tidak pernah merujuk pada bentuk fisik (jismiyyah), melainkan pada potensi lokus manifestasi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi (maẓhar al-asmā’ wa al-ṣifāt).

Al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, khususnya pada perbincangan mengenai keajaiban hati (‘ajā’ib al-qalb), menekankan bahwa qalbu manusia memiliki kapasitas cermin (mir’āt). Hati diciptakan dalam keadaan fitrah yang lapang dan bening, berkemampuan merefleksikan hakikat-hakikat spiritual. Ketika manusia dikatakan sebagai manifestasi rupa Ilahi, hal itu menandakan bahwa dalam struktur ruhani manusia telah diimplantasikan potensi untuk mengaktualisasikan sifat-sifat keutamaan—seperti kasih sayang (raḥmah), pengetahuan (‘ilm), kehendak (irādah), dan kehidupan (ḥayāt)—yang kesemuanya merupakan pancaran dari Sifat-sifat Mutlak Allah. Dengan demikian, pengenalan diri (ma‘rifat al-nafs) merupakan satu-satunya jalur yang sahih menuju pengenalan Tuhan (ma‘rifat Allāh). Diri manusia adalah mikrokosmos (‘ālam ṣaghīr) yang merangkum seluruh prinsip makrokosmos (‘ālam kabīr) sekaligus mencerminkan jejak-jejak Transendensi.


Perjumpaan dengan Psikologi Barat: Diskursus tentang Self dan Transendensi

Ketika kerangka ontologis ini dipertemukan dengan tradisi pemikiran Barat—khususnya psikologi dalam dan psikologi eksistensial-humanistik—terlihat adanya pergulatan yang paralel dalam melacak kedalaman identitas manusia, meskipun berdiri di atas alas epistemologis yang berbeda.

Carl Gustav Jung, melalui psikologi analitisnya, mengemukakan konsep Archetype of the Self sebagai pusat dari alam bawah sadar kolektif (collective unconscious). Bagi Jung, Self adalah pendorong utama menuju proses individuasi—sebuah perjalanan menjadi diri sendiri yang utuh dengan memadukan elemen-elemen kesadaran (ego) dan alam bawah sadar (unconscious). Dalam analisis Jungian, gambaran tentang Tuhan (God-image atau Imago Dei) secara empiris-psikologis tidak dapat dipisahkan dari struktur Self itu sendiri. Jung melihat bahwa pengalaman akan “Rupa Ilahi” sering kali muncul dalam simbol-simbol keutuhan (mandala) di dalam alam bawah sadar manusia.

Namun, di sinilah letak batas konseptual yang harus digarisbawahi secara tajam. Bagi Jung, Imago Dei adalah fenomena psikologis—sebuah arketipe yang beroperasi di dalam struktur psyche manusia. Jung tidak membuat klaim ontologis mengenai keberadaan Tuhan di luar realitas psikologis tersebut.

Di sisi lain, psikologi eksistensial melalui pemikir seperti Viktor Frankl menekankan keberadaan “hasrat akan makna” (will to meaning) dan dimensi noetik (ruhani) manusia. Frankl melihat bahwa di dalam lapisan terdalam kesadaran manusia terdapat unconscious religiosity—sebuah dorongan spiritual yang tidak disadari yang mengarahkan manusia kepada Yang Transenden.

Jika dilakukan pengujian kritis terhadap kedua pemikiran ini dari kerangka Filsafat Ruh dan Filsafat Qalbu, ditemukan titik temu sekaligus batas fundamental:

  1. Titik Temu: Baik tradisi tasawuf maupun psikologi dalam meyakini bahwa identitas permukaan manusia (ego atau nafs al-ammārah) bukanlah keseluruhan dari hakikat manusia. Ada kedalaman batin—alam bawah sadar atau realm sirr—yang menyimpan potensi keutuhan dan kesadaran yang jauh lebih tinggi.
  2. Perbedaan Epistemologis dan Ontologis: Psikologi Barat cenderung menempatkan kesadaran spiritual sebagai produk atau derivasi dari psyche (jiwa/pikiran manusia). Sebaliknya, dalam kerangka pemikiran yang saya kembangkan, qalb dan rūḥ bukanlah sekadar struktur intra-psikis, melainkan hakikat ontologis berdimensi Ilahiah yang ditiupkan langsung oleh Tuhan (nafakhtu fīhi min rūḥī).

Menyamakan arketipe Self Jungian secara langsung dengan Rūḥ atau Qalb adalah sebuah kesilapan reduksionis. Self dalam psikologi Jung masih berada dalam batas-batas fenomena immanent psyche, sementara Rūḥ dalam epistemologi Islam adalah substansi spiritual yang menghubungkan imanensi jiwa dengan transendensi Ilahi.


Anatomi Batin: Dari Nafs menuju Aktualisasi Mutma’innah

Untuk memahami bagaimana “Rupa Ilahi” diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, kita harus memeriksa dinamika transformasi batiniah. Manusia tidak otomatis mencerminkan Keindahan Ilahi hanya karena ia memiliki potensi tersebut. Ada proses pembersihan cermin diri (tazkiyah al-nafs) yang harus dilalui.

Dalam karya saya Nafsu Mutmainah Potensi Diri, saya memetakan pergerakan jiwa manusia melalui gradasi spiritual:

  • Nafs al-Ammārah: Lapisan jiwa yang masih terikat oleh insting materialistis, egoisme melampaui batas, dan kegelapan prasangka. Pada tingkat ini, cermin jiwa manusia tertutup oleh “karat” keterikatan duniawi dan dominasi ilusi ke-Aku-an yang mandiri (aniyyah).
  • Nafs al-Lawwāmah: Lapisan kesadaran kritis tempat terjadinya konflik batin dan penyesalan. Di sini, manusia mulai menyadari jarak antara perilakunya dengan standar ideal spiritualnya. Penyesalan (taubah) menjadi mekanisme penyucian untuk mengikis keterasingan tersebut.
  • Nafs al-Muṭma’innah: Keadaan jiwa yang telah mencapai kedamaian mutlak karena berhasil merealignasi kesadaran egonya dengan Kesadaran Ilahi. Pada Maqam inilah “Rupa Ilahi” mencermin secara jernih. Jiwa tidak lagi terombang-ambing oleh determinisme eksternal, melainkan bertindak sebagai instrumen kasih dan kehendak-Nya.

Proses transformasi ini paralel dengan apa yang dalam risalah Sirrul Asrar dijelaskan sebagai penyucian tiga tingkatan: penyucian jasad dari tindakan merusak, penyucian qalbu dari sifat-sifat tercela (al-aṣfāt al-dhamīmah), dan penyucian sirr (kedalaman rahasia batin) dari keterikatan kepada selain Allah (mā siwā Allāh).

Ketika cermin batin telah bersih melalui riyāḍah dan mujāhadah, maka sifat-sifat yang terpancar dari manusia adalah pantulan dari Sifat Ilahi. Kasih sayangnya kepada sesama makhluk bukan lagi sekadar dorongan simpati emosional-psikologis, melainkan pancaran dari al-Raḥmān dan al-Raḥīm. Keadilannya merupakan refleksi dari al-‘Adl. Di titik inilah manusia mencapai derajat Insān Kāmil—manusia utuh yang mengintegrasikan dimensi kebumian (mulk) dan dimensi kesucian langit (malakūt).


Implikasi Interpersonal: Memandang Rupa Ilahi pada Yang Lain

Pemahaman bahwa manusia diciptakan dalam Rupa Sang Maha Kuasa memiliki implikasi etis dan sosial yang radikal. Hal ini membentangkan paradigma baru dalam psikologi ruh interpersonal.

Jika setiap individu membawa tiupan Ruh Ilahi dan merupakan lokus pembiasan Śūrat Allāh, maka cara kita memandang, memperlakukan, dan berinteraksi dengan sesama manusia harus mengalami metamorfosis mendasar. Hubungan interpersonal tidak lagi didasari atas kalkulasi utilitarian, eksploitasi, atau simplifikasi hierarkis.

Sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an mengenai kemuliaan primordial manusia:

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam…” (Q.S. al-Isrā’ 17: 70)

Kemuliaan ini (karāmah insānīyah) bersifat ontologis dan inheren. Dalam konteks ini, melukai, menindas, atau merendahkan martabat manusia pada hakikatnya adalah bentuk pengabaian terhadap jejak Keagungan Ilahi yang terpatri dalam diri mereka.

Dalam ruang dialog interpersonal, menyadari “Rupa Ilahi” pada orang lain menuntut lahirnya kesadaran empatik yang dalam. Setiap jiwa yang kita jumpai—dengan segala keterbatasan, luka, dan dinamika perilakunya—sedang berada dalam perjalanan evolusi spiritual untuk mengenali kembali hakikat dirinya. Ketika kita berdialog dengan sesama, kita tidak hanya berhadapan dengan konstruksi sosial atau kepribadian luar (persona) mereka, melainkan sedang berhadapan dengan sebuah cermin yang juga memantulkan Cahaya yang sama.


Kontemplasi dan Manunggalnya Kesadaran

Bagaimana gagasan ini mengkristal dalam kehidupan praktis sehari-hari? Jawabannya terletak pada pilar Kontemplasi—upaya sadar untuk menarik diri dari kebisingan persepsi indrawi guna menyelami kedalaman sirr.

Kontemplasi bukanlah pelarian dari realitas material, melainkan penyelarasan kembali (realignment) fokus kesadaran. Ketika seseorang melakukan hening kontemplatif, ia secara bertahap melepas identifikasi dirinya dari objek-objek sementara:

  1. “Saya bukan sekadar tubuh fisik ini.”
  2. “Saya bukan sekadar emosi yang naik turun ini.”
  3. “Saya bukan sekadar pikiran dan konsep-konsep abstrak ini.”

Ketika seluruh identifikasi palsu tersebut gugur, yang tersisa adalah Murni Kesadaran (Pure Consciousness)—sebuah ruang batin yang tenang, terang, dan tak bertepi. Di dalam ruang hening itulah terjadi penyatuan persepsi (ittiḥād al-shu‘ūr), di mana manusia menyadari bahwa eksistensi dirinya sama sekali tidak terpisah dari Keberadaan Mutlak.

Manunggal dalam konteks ini bukan berarti peleburan zat manusia ke dalam Zat Tuhan secara panteistik (hulūl atau ittiḥād ontologis yang keliru), melainkan kesadaran penuh bahwa tiada daya, upaya, maupun eksistensi yang mandiri terlepas dari Allah (lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh). Manusia menyadari dirinya sebagai bayangan yang sepenuhnya bergantung pada Yang Memiliki Bayangan.

Mengenali bahwa “Setiap Manusia adalah Rupa Sang Maha Kuasa” merupakan seruan penyingkapan spiritual untuk bangkit dari kesadaran ego yang sempit menuju Kesadaran Ilahiah yang universal.

Kita tidak dituntut untuk mencari Tuhan di tempat yang jauh di luar sana, sebab jejak dan cetakan-Nya telah terpatri dalam kedalaman jiwa kita sendiri. Namun, penyingkapan ini menuntut keberanian spiritual untuk membersihkan cermin batin dari jelaga egoisme, keterikatan duniawi, dan ilusi terpisah dari Realitas Mutlak. Ketika cermin itu bersih, manusia tidak lagi melihat dirinya sebagai makhluk yang kerdil dan tak berdaya, melainkan sebagai wadah yang memancarkan Keindahan, Kasih, dan Keagungan Sang Pencipta di muka bumi.


Sumber

  • Surah al-Isrā’ (17) Ayat 70 Konteks Penggunaan: Dirujuk pada pembahasan pilar Karāmah Insānīyah (kemuliaan primordial manusia yang dianugerahkan Tuhan tanpa memandang latar belakang suku, ras, atau keyakinan).
  • Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad. (1982). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Ma‘rifah. 4 Jilid. Rincian Bagian yang Diacu: Jilid 3, Kitāb Sharḥ ‘Ajā’ib al-Qalb (Keterangan Keajaiban Hati): Menguraikan epistemologi pengenalan diri (ma‘rifat al-nafs) sebagai sarana mengenal Tuhan (ma‘rifat Allāh), serta fungsi qalbu sebagai cermin spiritual. Jilid 3, Kitāb Riyāḍat al-Nafs (Latihan Jiwa): Menguraikan tingkatan jiwa (al-nafs al-ammārah, al-lawwāmah, dan al-muṭma’innah) serta proses penyucian batin (tazkiyat al-nafs).
  • Frankl, Viktor E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press. ISBN: 978-0-8070-1429-5. Rincian Bagian yang Diacu: Section Two: “Logotherapy in a Nutshell” – Penjelasan mengenai will to meaning serta dimensi noetik (spiritual) manusia dalam mencari makna eksistensial.
  • Jung, Carl Gustav. (1969). The Archetypes and the Collective Unconscious. Translated by R.F.C. Hull. Volume 9, Part 1 of The Collected Works of C.G. Jung. Princeton, New Jersey: Princeton University Press. ISBN: 978-0-691-01833-1. Rincian Bagian yang Diacu: Chapter 1: “Archetypes of the Collective Unconscious” & Chapter 6: “Conscious, Unconscious, and Individuation” – Penjelasan mengenai arketipe Self, Imago Dei, dan dinamika pencapaian keutuhan psikologis.
  • Yedi Supriadi. Filsafat Jiwa (Sirrul Asrar).
  • Yedi Supriadi. Filsafat Qalbu (Sirrul Asrar).
  • Yedi Supriadi. Filsafat Ruh (Sirrul Asrar).
  • Yedi Supriadi. Nafsu Mutmainah Potensi Diri.
  • Yedi Supriadi. Psikologi Alam Bawah Sadar.