Krisis Jati Diri Manusia Modern: Fragmentasi Kesadaran dan Urgensi Transformasi Spiritual

Manusia modern hidup dalam keadaan yang paradoks. Ia memiliki semakin banyak sarana untuk mengenali dunia, tetapi belum tentu semakin mengenal dirinya. Ia dapat terhubung dengan ribuan orang melalui teknologi, tetapi mengalami keterasingan di dalam dirinya sendiri. Ia memiliki kebebasan untuk memilih identitas, gaya hidup, pekerjaan, komunitas, bahkan citra dirinya, tetapi semakin banyak pilihan tidak selalu menghasilkan kejelasan tentang siapa dirinya.

Pertanyaan tentang jati diri karena itu tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan, dalam kehidupan modern, pertanyaan tersebut justru menjadi semakin mendesak. Manusia berhadapan dengan begitu banyak tuntutan yang datang secara bersamaan: menjadi profesional, menjadi anggota keluarga, menjadi bagian dari komunitas, tampil di ruang digital, memenuhi ekspektasi sosial, dan pada saat yang sama mempertahankan citra tertentu tentang dirinya. Berbagai peran tersebut dapat berkembang secara wajar, tetapi dapat pula menghasilkan sesuatu yang lebih problematis: fragmentasi kesadaran.

Dalam Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, saya mengembangkan gagasan tentang tiga fase pembentukan jati diri: alam samar, alam sadar, dan alam fitrah. Kerangka tersebut dapat dibaca lebih jauh untuk memahami persoalan manusia modern. Alam samar bukan hanya keadaan ketika manusia belum mengenal dirinya secara mendalam. Ia juga dapat menjadi gambaran tentang kesadaran yang terpecah, ketika manusia hidup dari berbagai dorongan dan identitas yang tidak terintegrasi.

Dari sini muncul persoalan baru: apakah krisis jati diri manusia modern sebenarnya merupakan krisis identitas, atau krisis pusat kesadaran?  Saya melihat bahwa persoalan kedua lebih mendasar.

 

Ketika Banyak Identitas Tidak Menghasilkan Diri yang Utuh

Manusia selalu memiliki banyak peran. Seorang individu dapat sekaligus menjadi anak, orang tua, pendidik, pekerja, pemimpin, sahabat, anggota masyarakat, dan seorang hamba Allah. Banyaknya peran itu sendiri bukan masalah.

Masalah muncul ketika setiap peran berkembang menjadi pusat diri yang berbeda-beda dan tidak lagi memiliki orientasi yang menyatukan. Di ruang profesional, seseorang dapat menampilkan dirinya sebagai pribadi yang rasional dan tegas. Di hadapan keluarga, ia mungkin tampil berbeda. Di media sosial, ia dapat membangun citra yang bahkan tidak sepenuhnya sama dengan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ruang keagamaan, ia dapat memperlihatkan identitas spiritual tertentu. Sementara di dalam dirinya sendiri, mungkin terdapat kecemasan, keraguan, keinginan, dan konflik yang tidak pernah tampil ke permukaan. Perbedaan antara peran tidak selalu menunjukkan kepalsuan. Manusia memang memiliki konteks kehidupan yang berbeda. Namun, apabila tidak terdapat pusat kesadaran yang mengintegrasikannya, berbagai peran tersebut dapat berubah menjadi fragmentasi.

Kajian psikologi kontemporer mengenai identitas memberi petunjuk yang menarik. Identitas berkaitan dengan proses eksplorasi dan komitmen, sementara self-concept clarity merujuk pada sejauh mana seseorang memiliki pemahaman diri yang koheren dan konsisten. Tinjauan sistematis terhadap 32 penelitian dengan 19.658 partisipan menunjukkan bahwa kualitas keterlibatan seseorang di media sosial  misalnya autentisitas, presentasi diri, dan perbandingan sosial lebih penting daripada sekadar jumlah waktu yang dihabiskan di dalamnya ketika membahas perkembangan identitas.

Temuan tersebut penting karena mengingatkan kita agar tidak menyederhanakan krisis jati diri sebagai akibat teknologi semata.

Teknologi bukan satu-satunya penyebab. Persoalan yang lebih dalam adalah bagaimana manusia menggunakan ruang-ruang tersebut untuk membentuk dan mengalami dirinya. Media sosial dapat menjadi ruang eksplorasi identitas. Ia juga dapat menjadi ruang validasi diri, perbandingan sosial, dan pembentukan citra. Penelitian tentang media sosial dan perkembangan identitas menunjukkan bahwa presentasi diri, audiens daring, model sosial, dan perbandingan sosial semuanya dapat memengaruhi cara seseorang memahami dirinya.

Problem manusia modern bukan sekadar bahwa ia memiliki terlalu banyak identitas. Problemnya adalah kemungkinan bahwa ia mulai mengukur keberadaan dirinya berdasarkan pantulan dari luar.

Ia melihat dirinya melalui penilaian orang lain.

Ia mengenali dirinya melalui respons publik.

Ia menentukan nilai dirinya melalui pencapaian.

Ia mengukur keberhasilannya melalui perbandingan.

Lambat laun, pertanyaan “Siapakah saya?” bergeser menjadi “Bagaimana orang lain melihat saya?” Perubahan kecil dalam pertanyaan tersebut memiliki konsekuensi yang besar.

 

Fragmentasi Kesadaran dan Hilangnya Pusat Batin

Saya menggunakan istilah fragmentasi kesadaran bukan untuk menyatakan diagnosis psikologis tertentu. Istilah ini saya gunakan secara konseptual untuk menggambarkan keadaan ketika berbagai dimensi kehidupan manusia tidak lagi terhubung dalam orientasi yang utuh.

Seseorang berpikir sesuatu, merasakan sesuatu yang lain, mengatakan hal yang berbeda, dan melakukan tindakan yang bahkan bertentangan dengan ketiganya.

Ia mengetahui kebaikan, tetapi tidak mampu menghendakinya.

Ia menghendaki kebaikan, tetapi tidak mampu melaksanakannya.

Ia melakukan sesuatu yang baik, tetapi melakukannya demi pengakuan.

Di sini terlihat bahwa persoalan jati diri tidak berhenti pada identitas. Ia menyentuh hubungan antara nafs, qalb, ‘aql, dan rūḥ.

Jika akal hanya berfungsi sebagai alat untuk memenuhi keinginan nafs, maka kecerdasan dapat berkembang tanpa kebijaksanaan. Jika emosi tidak memperoleh orientasi nilai, manusia mudah dikuasai impuls. Jika kehidupan spiritual hanya menjadi identitas sosial, agama pun dapat berubah menjadi citra. Dan jika hati tidak memperoleh ruang untuk melakukan refleksi, manusia kehilangan kemampuan untuk mendengar kedalaman dirinya. Fragmentasi terjadi ketika bagian-bagian tersebut berjalan sendiri-sendiri. Dalam kerangka ini, krisis jati diri dapat dipahami sebagai krisis integrasi manusia. Manusia bukan kehilangan semua identitasnya. Justru ia memiliki terlalu banyak identitas yang tidak memiliki pusat.

 

Manusia Modern dan Diri yang Selalu Harus Dibangun

Pemikiran Zygmunt Bauman mengenai liquid modernity dapat membantu menerangi persoalan ini dari perspektif sosial. Dalam pembacaan terhadap gagasannya, identitas modern semakin tampil sebagai tugas yang terus-menerus dibangun dan dinegosiasikan, bukan sesuatu yang diterima sebagai bentuk yang sepenuhnya tetap. Kehidupan sosial menjadi semakin cair, sementara tuntutan untuk terus membangun diri justru semakin kuat.

Perspektif tersebut memiliki titik temu dengan persoalan yang saya kembangkan, tetapi tidak identik dengannya. Bauman membantu kita memahami kondisi sosial yang membuat manusia terus-menerus membentuk dirinya. Perspektif spiritual mengajukan pertanyaan yang berbeda: dari pusat apa pembentukan diri tersebut dilakukan?

Ini perbedaan yang penting. Jika manusia dianggap sepenuhnya bebas membangun dirinya, maka identitas dapat menjadi proyek tanpa titik orientasi yang transenden. Manusia terus memperbarui dirinya berdasarkan perubahan lingkungan, tren, kebutuhan sosial, atau preferensi personal. Ia menjadi proyek yang tidak pernah selesai. Namun, tidak setiap perubahan berarti transformasi.

Seseorang dapat mengganti pekerjaan, lingkungan, penampilan, komunitas, gaya hidup, bahkan pandangan hidup tanpa mengalami perubahan mendasar dalam struktur batinnya. Saya membedakan antara perubahan identitas dan transformasi kesadaran.

Perubahan identitas terjadi ketika manusia mengubah cara ia mendefinisikan dirinya. Transformasi kesadaran terjadi ketika manusia mengubah pusat dari mana ia memahami, menilai, dan menjalani dirinya. Yang pertama dapat berlangsung sangat cepat. Yang kedua membutuhkan proses.

 

Alam Samar sebagai Cermin Manusia yang Terfragmentasi

Alam samar tidak harus dipahami sebagai keadaan manusia yang sama sekali tidak sadar. Manusia dalam keadaan ini tetap dapat memiliki kecerdasan, pendidikan, jabatan, dan prestasi. Kesamaran justru dapat tersembunyi di balik semua itu. Manusia dapat sangat sadar terhadap dunia luar tetapi tidak sadar terhadap gerak batinnya. Ia tahu apa yang sedang terjadi di pasar, politik, teknologi, pendidikan, dan masyarakat, tetapi tidak mengetahui mengapa dirinya dikuasai iri, takut, marah, ambisi, atau kebutuhan akan pengakuan.

Ia memiliki information awareness, tetapi belum tentu memiliki self-awareness yang mendalam. Di sinilah konsep alam samar menjadi relevan bagi manusia modern.

Kesamaran adalah ketidakmampuan melihat diri secara jernih di tengah melimpahnya informasi. Manusia menerima begitu banyak suara dari luar sampai sulit mendengar suara batinnya sendiri.

  • Setiap hari ia melihat kehidupan orang lain.
  • Setiap hari ia menerima ukuran keberhasilan yang baru.
  • Setiap hari ia menemukan standar kecantikan, kecerdasan, kekayaan, popularitas, dan kebahagiaan yang berubah-ubah.

Jika kesadaran tidak memiliki pusat yang kokoh, manusia akan mudah menjadikan dunia luar sebagai cermin utama untuk menentukan nilai dirinya. Pada titik itu, jati diri menjadi rapuh.

 

Alam Sadar: Menghentikan Gerak Otomatis

Transformasi dimulai ketika manusia berhenti sejenak dari kehidupan yang berjalan otomatis. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa saya mengejar ini? Apakah keinginan ini benar-benar berasal dari kebutuhan terdalam saya, atau hanya hasil perbandingan?

  • Mengapa saya takut kehilangan pengakuan?
  • Mengapa saya membutuhkan orang lain untuk membenarkan keberadaan saya?
  • Mengapa saya merasa kosong ketika semua target telah tercapai?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan psikologis. Ia merupakan awal dari pembentukan kesadaran reflektif. Dalam penelitian saya tentang dzikir, spiritualitas, dan intuisi, proses pembentukan jati diri ditempatkan dalam tiga fase: alam samar, alam sadar, dan alam fitrah. Penelitian tersebut juga menghubungkan praktik spiritual dengan proses pembersihan hati dan pikiran, pembangunan kesadaran, hingga pengalaman firasat dan intuisi dalam perjalanan pembentukan jati diri.

Gagasan ini membuka ruang untuk memahami kesadaran bukan hanya sebagai kemampuan mengetahui sesuatu, tetapi sebagai kemampuan menghadirkan diri secara utuh di hadapan apa yang sedang dialami.

Dzikir, dalam kerangka tersebut, memperoleh fungsi yang lebih dalam. Ia bukan sekadar pengulangan verbal. Ia dapat menjadi latihan untuk mengembalikan perhatian kepada Allah ketika kesadaran terus-menerus ditarik oleh dunia luar.

Manusia modern membutuhkan teknologi untuk terhubung dengan dunia, tetapi juga membutuhkan keheningan agar dapat terhubung kembali dengan dirinya.

  • Tanpa keheningan, refleksi sulit berlangsung.
  • Tanpa refleksi, kesadaran mudah kembali menjadi reaktif.
  • Tanpa kesadaran, transformasi tidak memiliki dasar.

 

Mengapa Transformasi Spiritual Menjadi Mendesak?

Transformasi spiritual diperlukan bukan karena manusia modern harus meninggalkan modernitas. Yang perlu ditinggalkan adalah keadaan ketika teknologi, materi, status, dan opini publik mengambil alih pusat kesadaran manusia. Spiritualitas dalam pengertian ini bukan pelarian dari kehidupan. Ia adalah cara menempatkan kehidupan pada orientasi yang benar.

Manusia tetap bekerja, belajar, menggunakan teknologi, membangun ekonomi, berorganisasi, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tetapi semua aktivitas tersebut tidak lagi menjadi ukuran tertinggi keberadaan dirinya. Di sinilah spiritualitas berbeda dari sekadar pencarian kenyamanan batin. Transformasi spiritual bukan hanya membuat manusia merasa tenang. Ia harus menghasilkan perubahan orientasi, karakter, dan tindakan.

Dalam tradisi Islam, proses semacam ini dapat ditempatkan dalam kerangka tazkiyah al-nafs: usaha penyucian dan pembinaan diri. Ia menuntut mujahadah, pengendalian dorongan, kesadaran terhadap kelemahan diri, serta pembentukan akhlak. Transformasi spiritual tidak boleh direduksi menjadi pengalaman emosional. Pengalaman batin dapat menjadi pintu, tetapi bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah perubahan manusia.

 

Dari Fragmentasi Menuju Integrasi

Jika krisis jati diri merupakan krisis integrasi, maka jawabannya bukan sekadar menambahkan identitas spiritual di antara identitas-identitas lain. Manusia tidak membutuhkan “identitas agama” sebagai satu lagi label yang ditempelkan pada dirinya. Ia membutuhkan integrasi. Akal harus mampu membedakan yang benar dari yang keliru. Qalb harus mampu menerima kebenaran dan mengarahkan kecenderungan batin. Nafs harus dididik, bukan dibiarkan menjadi pusat kehidupan. Rūḥ harus menjadi orientasi transendental yang mengingatkan manusia bahwa keberadaannya tidak berhenti pada dunia material.

Dalam kerangka ini, pendidikan spiritual bukan sekadar transfer pengetahuan agama. Ia merupakan proses pembentukan manusia agar apa yang diketahui dapat turun menjadi kesadaran, kesadaran menjadi karakter, dan karakter menjadi tindakan.

Dengan demikian, transformasi bergerak dari dalam ke luar.

  • Kesadaran membentuk orientasi.
  • Orientasi membentuk nilai.
  • Nilai membentuk keputusan.
  • Keputusan yang berulang membentuk karakter.
  • Karakter membentuk jati diri.

Rangkaian ini membantu menjelaskan mengapa jati diri tidak dapat dibangun hanya melalui deklarasi. Seseorang tidak menjadi berintegritas hanya karena mengatakan dirinya berintegritas. Jati diri terbentuk ketika apa yang diyakini, dipikirkan, dirasakan, dikatakan, dan dilakukan semakin berada dalam keselarasan.

 

Dari Alam Sadar Menuju Alam Fitrah

Jika alam sadar merupakan tahap ketika manusia mulai melihat fragmentasi dirinya, alam fitrah dapat dipahami sebagai tahap ketika kesadaran mulai memperoleh kembali orientasi terdalamnya.

Al-Qur’an menyebut fitrat Allāh dalam Q.S. al-Rūm 30:30 ketika mengarahkan manusia kepada agama yang lurus dan mengaitkannya dengan fitrah yang Allah ciptakan pada manusia. Fitrah dalam ayat tersebut tidak cukup dipahami sebagai sekadar sifat bawaan psikologis; ia berkaitan dengan orientasi dasar manusia kepada Allah dan agama-Nya. Karena itu, alam fitrah bukan keadaan ketika manusia menjadi tanpa masalah. Manusia yang berada dalam proses menuju fitrah tetap menghadapi konflik, kegagalan, kesedihan, dan godaan. Perbedaannya terletak pada pusat orientasi.

  1. Ia tidak lagi menjadikan keberhasilan sebagai sumber mutlak harga diri.
  2. Ia tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk kehilangan makna.
  3. Ia tidak menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran tertinggi.
  4. Ia mulai memahami dirinya sebagai makhluk yang memiliki hubungan dengan Allah.

Di sinilah perjalanan jati diri menemukan dimensi ontologisnya. Manusia bukan sekadar makhluk yang bertanya tentang siapa dirinya. Ia adalah makhluk yang diciptakan, diberi amanah, dan diarahkan kepada tujuan tertentu.

 

Krisis Jati Diri sebagai Krisis Orientasi

Dari keseluruhan pembahasan ini, saya ingin mengembangkan satu tesis: krisis jati diri manusia modern pada tingkat terdalam bukan semata-mata krisis identitas, melainkan krisis orientasi kesadaran.

Manusia dapat memiliki identitas yang jelas tetapi tetap kehilangan arah.

  1. Ia tahu siapa dirinya secara sosial, tetapi tidak tahu untuk apa hidupnya.
  2. Ia mengetahui profesinya, tetapi tidak memahami makna pekerjaannya.
  3. Ia mengetahui statusnya, tetapi tidak memahami amanah yang melekat pada status tersebut.
  4. Ia mengetahui keinginannya, tetapi tidak mengetahui apakah keinginan itu layak menjadi tujuan hidup.

Pemulihan jati diri membutuhkan lebih daripada pencarian identitas. Yang diperlukan adalah pemulihan pusat orientasi. Dalam kerangka tiga fase yang saya kembangkan, perjalanan tersebut dapat dipahami sebagai gerak:

alam samar → alam sadar → alam fitrah.

  1. Alam samar menggambarkan kesadaran yang dikuasai permukaan dan belum melihat keterpecahan dirinya.
  2. Alam sadar menggambarkan munculnya kemampuan reflektif untuk melihat, menguji, dan mengintegrasikan diri.
  3. Alam fitrah menggambarkan kesadaran yang semakin menemukan kembali orientasi ketuhanannya.

Tiga fase tersebut bukan sekadar tangga yang setelah dilalui tidak pernah dapat dituruni kembali. Kehidupan manusia jauh lebih dinamis. Seseorang dapat mengalami kejernihan pada suatu masa dan kembali mengalami kesamaran pada masa lain. Transformasi spiritual bukan pencapaian yang membuat manusia selesai. Ia adalah jalan pemeliharaan kesadaran.

 

Penutup: Menemukan Kembali Pusat Diri

Krisis jati diri manusia modern tidak akan selesai hanya dengan memberi manusia lebih banyak pilihan. Pilihan tanpa orientasi dapat menghasilkan kebingungan. Informasi tanpa kebijaksanaan dapat menghasilkan kebisingan. Kebebasan tanpa kesadaran dapat berubah menjadi keterikatan baru. Teknologi tanpa kedalaman batin dapat membuat manusia semakin terhubung secara sosial tetapi semakin jauh dari dirinya sendiri.

Tantangan terbesar manusia modern bukan sekadar bagaimana membangun identitas yang kuat, tetapi bagaimana menemukan pusat yang mampu mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupannya. Di sinilah transformasi spiritual memperoleh urgensinya. Ia mengajak manusia berhenti menjadikan dunia sebagai satu-satunya cermin diri. Ia mengajak manusia masuk ke dalam dirinya, mengenali gerak nafs, menjernihkan qalb, menggunakan ‘aql secara benar, dan mengarahkan kehidupan kepada Allah.

  1. Dari alam samar, manusia belajar melihat.
  2. Dari alam sadar, manusia belajar memahami.
  3. Dari alam fitrah, manusia belajar kembali kepada orientasi asal keberadaannya.

Pembentukan jati diri bukanlah proyek untuk menciptakan “diri baru” tanpa batas. Ia lebih menyerupai perjalanan untuk menyingkap, membersihkan, dan mengintegrasikan diri sehingga manusia semakin mampu menjadi dirinya secara utuh. Pada akhirnya, persoalan yang paling penting bukan lagi: “Bagaimana saya ingin dilihat oleh dunia?”

Melainkan: “Dari pusat kesadaran mana saya menjalani kehidupan, dan kepada siapa seluruh keberadaan saya diarahkan?”

Jawaban atas pertanyaan itulah yang menentukan apakah manusia hanya sedang membangun citra diri, atau sungguh-sungguh sedang membentuk jati dirinya.

 

Sumber
  • Yedi Supriadi, Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, Cirebon: CV Iman Rijalullah, 2021. Informasi bibliografis karya ini juga tercantum dalam sumber yang memuat daftar karya Yedi Supriadi.
  • Yedi Supriadi, “Dzikir, Spiritualitas dan Intuisi: Studi tentang Pembentukan Jati Diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka,” Irsyad: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam, Vol. 8 No. 3, 2020.
  • Yedi Supriadi, “Dzikir, Spiritualitas dan Intuisi: Studi tentang Pembentukan Jati Diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka,” SSRN, 2024.
  • Hamide Avci, Laura Baams, dan Tina Kretschmer, “A Systematic Review of Social Media Use and Adolescent Identity Development,” Adolescent Research Review, 10, 219–236, 2025.
  • Vanesa Pérez-Torres, “Social media: a digital social mirror for identity development during adolescence,” Current Psychology, 43, 22170–22180, 2024.
  • Emma Palese, “Zygmunt Bauman. Individual and society in the liquid modernity,” SpringerPlus, 2, 191, 2013.
  • Al-Qur’an, Q.S. al-Rūm 30:30.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *