Kita hidup dalam zaman ketika manusia semakin mudah menjelaskan dirinya, tetapi belum tentu semakin mengenal dirinya. Identitas dapat ditampilkan melalui pekerjaan, pendidikan, gaya hidup, pilihan sosial, bahkan melalui citra yang dibangun di ruang digital. Namun semua itu masih menyisakan pertanyaan yang lebih mendasar: siapa sebenarnya diri kita ketika seluruh label tersebut dilepaskan?
Pertanyaan tentang jati diri karena itu tidak cukup dijawab dengan mengetahui nama, profesi, latar belakang, atau kepribadian seseorang. Jati diri menyentuh wilayah yang lebih dalam: bagaimana manusia memahami dirinya, dari mana ia berasal, ke mana hidupnya diarahkan, dan kesadaran seperti apa yang menjadi dasar tindakannya.
Dalam pemikiran Syekh Dr. Yedi Supriadi, persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas dan intuisi. Dalam karyanya Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, pembentukan jati diri dipahami melalui proses perkembangan kesadaran yang bergerak dari Fase Alam Samar, Fase Alam Sadar, menuju Fase Alam Fitrah. Kerangka serupa juga muncul dalam penelitian beliau mengenai dzikir, spiritualitas, intuisi, dan pembentukan jati diri.
Gagasan penting yang dapat dikembangkan dari pemikiran tersebut adalah bahwa jati diri bukan sekadar identitas yang kita miliki, melainkan kesadaran yang harus dibentuk dan dimurnikan.
Dari Identitas Menuju Jati Diri
Identitas dan jati diri sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Padahal keduanya dapat dibedakan.
Identitas terutama menjawab pertanyaan: siapa saya menurut berbagai tanda yang melekat pada diri saya? Nama, pekerjaan, pendidikan, keluarga, kelompok sosial, dan berbagai peran kehidupan merupakan bagian dari identitas.
Jati diri bergerak lebih jauh. Ia menyentuh pertanyaan: siapa saya pada tingkat keberadaan yang paling mendasar?
Perbedaan ini penting karena seseorang dapat memiliki identitas yang kuat tetapi belum memiliki jati diri yang matang. Seseorang mungkin dikenal sebagai akademisi, pemimpin, pengusaha, pendidik, atau tokoh agama, tetapi semua peran tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa ia telah mengenali dirinya.
Justru di sinilah persoalan spiritual menjadi penting. Jika manusia hanya memahami dirinya dari apa yang tampak di luar, ia mudah menjadikan pengakuan sosial sebagai ukuran keberadaan. Nilai dirinya ditentukan oleh jabatan, prestasi, kepemilikan, atau penilaian orang lain.
Jati diri yang demikian selalu rapuh karena bergantung pada sesuatu yang dapat berubah.
Pembacaan terhadap pemikiran Yedi Supriadi membuka kemungkinan untuk melihat jati diri secara berbeda: manusia perlu bergerak dari kesadaran yang masih kabur menuju kesadaran yang lebih jernih, hingga kembali menemukan dimensi fitrahnya. Tiga fase yang dikemukakan beliau menjadi penting bukan sebagai kategori psikologis yang kaku, melainkan sebagai gambaran perjalanan batin manusia.
Fase Alam Samar: Ketika Diri Belum Sepenuhnya Disadari
Fase Alam Samar dapat dibaca sebagai keadaan ketika manusia belum sepenuhnya menyadari struktur terdalam dirinya. Ia hidup, berpikir, memilih, dan bertindak, tetapi tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya menggerakkan dirinya.
Pada tahap ini, keinginan pribadi, dorongan emosional, pengalaman masa lalu, pengaruh lingkungan, dan berbagai kepentingan dapat bercampur menjadi satu.
Manusia merasa bahwa ia sedang memilih secara bebas, padahal sebagian pilihannya mungkin merupakan respons otomatis terhadap dorongan yang belum dikenali.
Persoalannya bukan semata-mata bahwa manusia memiliki kelemahan. Persoalan yang lebih serius adalah ketika kelemahan itu tidak disadari.
Seseorang yang tidak mengenali kemarahan dalam dirinya akan mudah menganggap ledakan emosinya sebagai ketegasan. Orang yang tidak menyadari kebutuhan akan pengakuan dapat mengira ambisinya sebagai perjuangan. Seseorang yang dikuasai rasa takut dapat menyebut kehati-hatiannya sebagai kebijaksanaan.
Karena itu, perjalanan menuju jati diri harus dimulai dengan kesadaran.
Bukan kebetulan jika karya dan penelitian Yedi Supriadi menghubungkan spiritualitas dengan proses pembersihan hati dan pikiran. Dalam kajian beliau tentang Majelis Dzikir Rijalullah, praktik spiritual dipahami sebagai proses yang berkaitan dengan kebangkitan kesadaran, intuisi, dan pembentukan jati diri.
Spiritualitas, dalam pengertian ini, bukan pelarian dari realitas manusia. Ia justru merupakan usaha untuk melihat realitas diri dengan lebih jernih.
Fase Alam Sadar: Mengenali Diri dan Mengolah Batin
Kesadaran mengubah hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Ketika seseorang mulai menyadari dorongan, kecenderungan, kelemahan, dan potensinya, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi objek dari dorongan tersebut. Ia mulai dapat mengamati dirinya.
Di sinilah dimensi spiritual memperoleh fungsi yang lebih mendalam. Dzikir, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai aktivitas verbal berupa pengulangan lafaz, tetapi sebagai praktik yang mengarahkan perhatian manusia kembali kepada Allah dan sekaligus membentuk kesadaran batin.
Dalam penelitian Yedi Supriadi, praktik spiritual yang diterapkan di Majelis Dzikir Rijalullah mencakup sejumlah metode yang berakar pada tradisi spiritual al-Ghazali, antara lain taubat, sabar, zuhud, tawakal, wara’, kefakiran, mahabbah, ma‘rifah, dan ridha. Praktik tersebut dikaitkan dengan proses pembersihan hati dan pikiran yang kemudian berhubungan dengan perkembangan kesadaran dan intuisi.
Yang menarik dari kerangka ini adalah bahwa perubahan diri tidak dipahami sebagai sesuatu yang terjadi secara instan.
Manusia tidak menjadi matang hanya karena mengetahui teori tentang dirinya. Pengetahuan harus berubah menjadi latihan, dan latihan harus berubah menjadi karakter.
Seseorang dapat mengetahui pentingnya kesabaran, tetapi pengetahuan tersebut belum menjadi bagian dari dirinya sebelum ia mampu mengolah respons terhadap keadaan yang menguji kesabarannya. Ia dapat memahami makna keikhlasan, tetapi keikhlasan menjadi kualitas diri ketika ia mampu bertindak tanpa terus-menerus membutuhkan pengakuan.
Dengan demikian, spiritualitas memiliki dimensi pembentukan.
Ia bukan hanya tentang apa yang dipercayai manusia, tetapi tentang manusia seperti apa yang lahir dari kepercayaannya.
Intuisi dan Batas Pengetahuan Rasional
Salah satu bagian penting dalam pemikiran Yedi Supriadi adalah hubungan antara spiritualitas dan intuisi.
Dalam kehidupan modern, pengetahuan sering kali identik dengan kemampuan berpikir rasional. Akal, data, pengalaman empiris, dan analisis memang mempunyai kedudukan penting. Tetapi manusia tidak hidup hanya dengan kalkulasi.
Ada keputusan-keputusan tertentu yang melibatkan kepekaan batin: kemampuan membaca keadaan, merasakan ketidaksesuaian, menangkap makna yang belum terumuskan secara konseptual, atau memahami sesuatu berdasarkan pengalaman batin yang panjang.
Dalam kerangka Yedi Supriadi, intuisi ditempatkan dalam perjalanan kesadaran spiritual. Penelitian beliau menggambarkan adanya perkembangan dari kesadaran menuju firasat dan intuisi dalam proses pembentukan jati diri.
Namun gagasan ini perlu dibaca secara hati-hati.
Intuisi tidak semestinya dipahami sebagai pengganti akal. Lebih tepat jika ia ditempatkan sebagai salah satu dimensi kesadaran manusia yang perlu dibentuk dan dimatangkan.
Sebab tidak semua perasaan adalah intuisi. Tidak setiap dugaan batin adalah kebenaran. Ketakutan, prasangka, trauma, keinginan, dan kepentingan pribadi juga dapat muncul sebagai pengalaman subjektif yang terasa sangat kuat.
Karena itu, spiritualitas yang matang justru menuntut disiplin batin.
Intuisi yang tidak disertai penyucian diri dapat dengan mudah berubah menjadi pembenaran terhadap keinginan pribadi. Sebaliknya, pengolahan spiritual yang sehat semestinya membuat manusia semakin rendah hati terhadap pengalaman batinnya sendiri.
Di sinilah hubungan antara intuisi dan jati diri menjadi menarik: semakin dalam seseorang memahami dirinya, semakin ia perlu membedakan antara suara kesadaran dan suara ego.
Fase Alam Fitrah: Kembali kepada Dasar Keberadaan
Perjalanan dari Alam Samar menuju Alam Sadar belum menjadi tujuan akhir. Dalam kerangka tiga fase yang dikemukakan Yedi Supriadi, terdapat Fase Alam Fitrah.
Fitrah di sini tidak cukup dipahami sebagai sifat bawaan manusia dalam pengertian psikologis sederhana. Dalam kerangka spiritual Islam, fitrah berkaitan dengan orientasi dasar manusia kepada kebenaran dan Tuhan.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Yedi Supriadi di laman Filsafat Jiwa, yang menggambarkan jiwa sebagai entitas fitrah yang berakar pada sumber Ilahi dan menghubungkan pembukaan potensi jiwa dengan kesadaran eksistensial, akhlak, spiritualitas, serta pengenalan kepada Allah.
Dari sini muncul pemahaman yang lebih dalam tentang jati diri.
Mengenali diri bukan sekadar menemukan “kepribadian saya”, melainkan menemukan orientasi terdalam yang seharusnya mengarahkan kehidupan.
Jika manusia hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”, ia mungkin menemukan berbagai keinginan.
Jika ia bertanya, “Apa yang saya mampu lakukan?”, ia mungkin menemukan berbagai potensi.
Tetapi ketika pertanyaannya menjadi, “Untuk apa saya hidup?”, pencarian itu memasuki wilayah yang lebih fundamental.
Dalam konteks pemikiran Islam yang dikembangkan Yedi Supriadi, hubungan manusia dengan Allah menjadi bagian penting dari pencarian tersebut. Halaman mengenai Konsep Diri Islami yang diterbitkan oleh Penerbit Iman Rijalullah, misalnya, menjelaskan konsep diri bukan hanya dalam dimensi psikologis dan sosial, tetapi juga dalam dimensi spiritual: bagaimana manusia memahami keberadaannya di hadapan Allah.
Dengan perspektif ini, jati diri bukanlah proyek membangun citra diri. Ia lebih dekat kepada proses menemukan dan menghidupkan kembali orientasi fitrah.
Spiritualitas Tidak Berhenti pada Pengalaman Batin
Ada bahaya tertentu ketika spiritualitas hanya dipahami sebagai pengalaman internal.
Seseorang dapat merasa memperoleh ketenangan, mengalami pengalaman batin, atau merasa memiliki intuisi yang kuat, tetapi perubahan tersebut belum tentu menghasilkan kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, ukuran spiritualitas seharusnya tidak berhenti pada apa yang dirasakan di dalam diri. Ia juga harus terlihat dalam cara manusia memperlakukan orang lain, mengambil keputusan, mengendalikan dirinya, menjalankan tanggung jawab, dan menghadapi kehidupan.
Dalam karya-karya Yedi Supriadi, dimensi spiritual memang berulang kali ditempatkan dalam hubungan dengan pembentukan karakter dan kehidupan manusia. Misalnya, konsep sabar dalam karya beliau dipahami sebagai proses pembentukan diri yang menghubungkan nilai ilahiah dengan pengelolaan dinamika psikologis manusia.
Ini memberi konsekuensi penting: jati diri yang matang bukan hanya membuat seseorang mengetahui siapa dirinya, tetapi membuat hidupnya semakin sesuai dengan nilai yang diyakininya.
Kesadaran harus melahirkan transformasi.
Pengetahuan tentang diri harus melahirkan tanggung jawab terhadap diri.
Dan pengalaman spiritual harus melahirkan perubahan dalam perilaku.
Jati Diri sebagai Proses, Bukan Label
Dari seluruh rangkaian pemikiran tersebut, jati diri dapat dipahami sebagai proses yang terus berlangsung.
Manusia tidak selesai hanya karena telah menemukan satu definisi tentang dirinya. Kehidupan terus menguji kesadaran. Situasi baru membuka kelemahan yang sebelumnya tidak terlihat. Hubungan dengan orang lain memperlihatkan sisi diri yang belum disadari. Krisis memaksa manusia mempertanyakan kembali nilai yang selama ini dianggap pasti.
Karena itu, jati diri bukan sesuatu yang dapat dipamerkan.Ia justru tampak dalam konsistensi antara kesadaran, nilai, dan tindakan. Pembacaan terhadap pemikiran Yedi Supriadi membawa kita pada satu kemungkinan penting: pencarian jati diri sebenarnya merupakan perjalanan spiritual. Ia bergerak dari ketidakjelasan menuju kesadaran, dari kesadaran menuju pengolahan batin, dan dari pengolahan batin menuju kehidupan yang semakin selaras dengan fitrah.
Dalam perjalanan itu, intuisi bukan sekadar kemampuan “mengetahui sesuatu tanpa berpikir”, melainkan bagian dari persoalan yang lebih luas tentang bagaimana manusia mengenali dirinya dan membaca kehidupan melalui kesadaran yang telah dibentuk.
Maka pertanyaan tentang jati diri akhirnya tidak berhenti pada “Siapa saya?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: kesadaran seperti apa yang sedang membentuk diri saya setiap hari? Sebab diri kita bukan hanya hasil dari apa yang kita pikirkan tentang diri sendiri. Kita juga merupakan hasil dari apa yang terus kita latih, kita ingat, kita cintai, dan kita jadikan tujuan hidup. Di situlah spiritualitas memperoleh makna yang paling konkret. Ia bukan sekadar jalan untuk mengalami sesuatu yang transenden, tetapi jalan untuk menjadi manusia yang berbeda: lebih sadar terhadap dirinya, lebih jernih dalam membaca kehidupan, dan lebih dekat kepada fitrah yang menjadi dasar keberadaannya.
Sumber
- Yedi Supriadi, Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, Cirebon: CV Iman Rijalullah, 2021. Informasi bibliografis ini tercantum dalam karya Yedi Supriadi lainnya dan katalog Penerbit Iman Rijalullah.
- Yedi Supriadi, “Dzikir, Spiritualitas dan Intuisi: Studi tentang Pembentukan Jati Diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka,” Irsyad: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam, Vol. 8, No. 3 (2020), hlm. 235–254. DOI 10.15575/irsyad.v8i3.2000.
- Yedi Supriadi, Filsafat Jiwa (Sirrul Asrar), materi yang dipublikasikan di yedisupriadi.com.
- Yedi Supriadi, Dinamika Kepribadian Islam, materi yang dipublikasikan di yedisupriadi.com.