{"id":3433,"date":"2026-09-06T12:54:58","date_gmt":"2026-09-06T12:54:58","guid":{"rendered":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3433"},"modified":"2026-09-06T13:00:24","modified_gmt":"2026-09-06T13:00:24","slug":"baru-aku-sadari-siapa-diri-ini-ternyata-benar-bahwa-diriku-adalah-dirinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3433","title":{"rendered":"BARU AKU SADARI SIAPA DIRI INI, TERNYATA BENAR BAHWA DIRIKU ADALAH DIRINYA"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3433\" class=\"elementor elementor-3433\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-35a4121 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"35a4121\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-4fa5068 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"4fa5068\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h2>\u00a0<\/h2><h4>Membaca Rupa Ilahi dalam Diri: Ontologi <em>\u015a\u016brat All\u0101h<\/em> dan Dialektika Transformasi Diri<\/h4><p>Di hadapan cermin, manusia senantiasa berhadapan dengan dualitas yang membingungkan: keintiman eksistensial yang begitu erat sekaligus asing. Kita mengenali kontur wajah, bentuk fisik, dan rekaman ingatan yang melingkupi eksistensi harian. Namun, ketika pertanyaan mendasar diajukan\u2014siapa sebenarnya yang sedang memandang dari balik manik mata tersebut?\u2014kesadaran kerap terbentur pada batas-batas empiris yang dangkal. Kebanyakan tradisi pemikiran modern cenderung mereduksi identitas manusia menjadi sekadar himpunan fungsi biologis, konstruksi sosial, atau dinamika psiko-organik yang acak.<\/p><p>Pertanyaan mengenai hakikat diri ini sejatinya merupakan titik berangkat bagi seluruh bangunan epistemologi dan ontologi spiritual. Dalam pemikiran yang telah saya petakan melalui karya-karya sebelumnya mengenai <em>Filsafat Jiwa<\/em>, <em>Filsafat Qalbu<\/em>, hingga <em>Psikologi Alam Bawah Sadar<\/em>, pengenalan terhadap diri (<em>ma\u2018rifat al-nafs<\/em>) bukanlah sekadar proyek psikologis introspektif, melainkan sebuah penyingkapan ontologis. Eksistensi manusia tidak dapat dipahami secara utuh tanpa melacak akar primordialnya yang terhubung langsung dengan Realitas Mutlak. Persoalan mendasar yang hendak saya bedah dalam artikulasi ini adalah: bagaimana kita memahami gagasan bahwasanya setiap manusia diciptakan dalam &#8220;Rupa&#8221; Sang Maha Kuasa (<em>\u2018al\u0101 \u1e63\u016bratih<\/em>), dan bagaimana penyingkapan hakikat ini mentransformasi struktur kesadaran serta psikologi batiniah manusia?<br \/><br \/><\/p><h4>Epistemologi <em>\u015a\u016brat All\u0101h<\/em>: Melampaui Antropomorfisme<\/h4><p>Diskursus mengenai &#8220;Rupa Tuhan&#8221; (<em>\u015a\u016brat All\u0101h<\/em>) sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem yang sama-sama menyesatkan: literalisme antropomorfis (<em>tasby\u012bh<\/em>) yang membayangkan Tuhan dalam bentuk fisik material, atau rasionalisme ekstrem (<em>ta\u2018\u1e6d\u012bl<\/em>) yang mengosongkan makna teks hingga menghilangkan dimensi keintiman antara Al-Kh\u0101liq dan makhluk.<\/p><p>Gagasan ini berakar pada pilar epistemologis sebagaimana terekam dalam risalah kenabian yang menegaskan bahwa Allah menciptakan Adam sesuai dengan Rupa-Nya. Dalam tradisi tasawuf dan filsafat Islam, seperti yang dikembangkan oleh Ab\u016b \u1e24\u0101mid al-Ghaz\u0101l\u012b dan dilanjutkan oleh Ibn \u2018Arab\u012b, <em>\u1e63\u016brah<\/em> di sini tidak pernah merujuk pada bentuk fisik (<em>jismiyyah<\/em>), melainkan pada potensi lokus manifestasi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi (<em>ma\u1e93har al-asm\u0101\u2019 wa al-\u1e63if\u0101t<\/em>).<\/p><p>Al-Ghaz\u0101l\u012b dalam <em>I\u1e25y\u0101\u2019 \u2018Ul\u016bm al-D\u012bn<\/em>, khususnya pada perbincangan mengenai keajaiban hati (<em>\u2018aj\u0101\u2019ib al-qalb<\/em>), menekankan bahwa qalbu manusia memiliki kapasitas cermin (<em>mir\u2019\u0101t<\/em>). Hati diciptakan dalam keadaan fitrah yang lapang dan bening, berkemampuan merefleksikan hakikat-hakikat spiritual. Ketika manusia dikatakan sebagai manifestasi rupa Ilahi, hal itu menandakan bahwa dalam struktur ruhani manusia telah diimplantasikan potensi untuk mengaktualisasikan sifat-sifat keutamaan\u2014seperti kasih sayang (<em>ra\u1e25mah<\/em>), pengetahuan (<em>\u2018ilm<\/em>), kehendak (<em>ir\u0101dah<\/em>), dan kehidupan (<em>\u1e25ay\u0101t<\/em>)\u2014yang kesemuanya merupakan pancaran dari Sifat-sifat Mutlak Allah. Dengan demikian, pengenalan diri (<em>ma\u2018rifat al-nafs<\/em>) merupakan satu-satunya jalur yang sahih menuju pengenalan Tuhan (<em>ma\u2018rifat All\u0101h<\/em>). Diri manusia adalah mikrokosmos (<em>\u2018\u0101lam \u1e63agh\u012br<\/em>) yang merangkum seluruh prinsip makrokosmos (<em>\u2018\u0101lam kab\u012br<\/em>) sekaligus mencerminkan jejak-jejak Transendensi.<\/p><h4><br \/>Perjumpaan dengan Psikologi Barat: Diskursus tentang <em>Self<\/em> dan Transendensi<\/h4><p>Ketika kerangka ontologis ini dipertemukan dengan tradisi pemikiran Barat\u2014khususnya psikologi dalam dan psikologi eksistensial-humanistik\u2014terlihat adanya pergulatan yang paralel dalam melacak kedalaman identitas manusia, meskipun berdiri di atas alas epistemologis yang berbeda.<\/p><p>Carl Gustav Jung, melalui psikologi analitisnya, mengemukakan konsep <em>Archetype of the Self<\/em> sebagai pusat dari alam bawah sadar kolektif (<em>collective unconscious<\/em>). Bagi Jung, <em>Self<\/em> adalah pendorong utama menuju proses individuasi\u2014sebuah perjalanan menjadi diri sendiri yang utuh dengan memadukan elemen-elemen kesadaran (<em>ego<\/em>) dan alam bawah sadar (<em>unconscious<\/em>). Dalam analisis Jungian, gambaran tentang Tuhan (<em>God-image<\/em> atau <em>Imago Dei<\/em>) secara empiris-psikologis tidak dapat dipisahkan dari struktur <em>Self<\/em> itu sendiri. Jung melihat bahwa pengalaman akan &#8220;Rupa Ilahi&#8221; sering kali muncul dalam simbol-simbol keutuhan (<em>mandala<\/em>) di dalam alam bawah sadar manusia.<\/p><p>Namun, di sinilah letak batas konseptual yang harus digarisbawahi secara tajam. Bagi Jung, <em>Imago Dei<\/em> adalah fenomena psikologis\u2014sebuah arketipe yang beroperasi di dalam struktur <em>psyche<\/em> manusia. Jung tidak membuat klaim ontologis mengenai keberadaan Tuhan di luar realitas psikologis tersebut.<\/p><p>Di sisi lain, psikologi eksistensial melalui pemikir seperti Viktor Frankl menekankan keberadaan &#8220;hasrat akan makna&#8221; (<em>will to meaning<\/em>) dan dimensi noetik (ruhani) manusia. Frankl melihat bahwa di dalam lapisan terdalam kesadaran manusia terdapat <em>unconscious religiosity<\/em>\u2014sebuah dorongan spiritual yang tidak disadari yang mengarahkan manusia kepada Yang Transenden.<\/p><p>Jika dilakukan pengujian kritis terhadap kedua pemikiran ini dari kerangka <em>Filsafat Ruh<\/em> dan <em>Filsafat Qalbu<\/em>, ditemukan titik temu sekaligus batas fundamental:<\/p><ol><li><strong>Titik Temu:<\/strong> Baik tradisi tasawuf maupun psikologi dalam meyakini bahwa identitas permukaan manusia (<em>ego<\/em> atau <em>nafs al-amm\u0101rah<\/em>) bukanlah keseluruhan dari hakikat manusia. Ada kedalaman batin\u2014alam bawah sadar atau realm <em>sirr<\/em>\u2014yang menyimpan potensi keutuhan dan kesadaran yang jauh lebih tinggi.<\/li><li><strong>Perbedaan Epistemologis dan Ontologis:<\/strong> Psikologi Barat cenderung menempatkan kesadaran spiritual sebagai produk atau derivasi dari <em>psyche<\/em> (jiwa\/pikiran manusia). Sebaliknya, dalam kerangka pemikiran yang saya kembangkan, <em>qalb<\/em> dan <em>r\u016b\u1e25<\/em> bukanlah sekadar struktur intra-psikis, melainkan hakikat ontologis berdimensi Ilahiah yang ditiupkan langsung oleh Tuhan (<em>nafakhtu f\u012bhi min r\u016b\u1e25\u012b<\/em>).<\/li><\/ol><p>Menyamakan arketipe <em>Self<\/em> Jungian secara langsung dengan <em>R\u016b\u1e25<\/em> atau <em>Qalb<\/em> adalah sebuah kesilapan reduksionis. <em>Self<\/em> dalam psikologi Jung masih berada dalam batas-batas fenomena <em>immanent psyche<\/em>, sementara <em>R\u016b\u1e25<\/em> dalam epistemologi Islam adalah substansi spiritual yang menghubungkan imanensi jiwa dengan transendensi Ilahi.<\/p><h4><br \/>Anatomi Batin: Dari <em>Nafs<\/em> menuju Aktualisasi <em>Mutma\u2019innah<\/em><\/h4><p>Untuk memahami bagaimana &#8220;Rupa Ilahi&#8221; diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, kita harus memeriksa dinamika transformasi batiniah. Manusia tidak otomatis mencerminkan Keindahan Ilahi hanya karena ia memiliki potensi tersebut. Ada proses pembersihan cermin diri (<em>tazkiyah al-nafs<\/em>) yang harus dilalui.<\/p><p>Dalam karya saya <em>Nafsu Mutmainah Potensi Diri<\/em>, saya memetakan pergerakan jiwa manusia melalui gradasi spiritual:<\/p><ul><li><strong>Nafs al-Amm\u0101rah:<\/strong> Lapisan jiwa yang masih terikat oleh insting materialistis, egoisme melampaui batas, dan kegelapan prasangka. Pada tingkat ini, cermin jiwa manusia tertutup oleh &#8220;karat&#8221; keterikatan duniawi dan dominasi ilusi ke-Aku-an yang mandiri (<em>aniyyah<\/em>).<\/li><li><strong>Nafs al-Laww\u0101mah:<\/strong> Lapisan kesadaran kritis tempat terjadinya konflik batin dan penyesalan. Di sini, manusia mulai menyadari jarak antara perilakunya dengan standar ideal spiritualnya. Penyesalan (<em>taubah<\/em>) menjadi mekanisme penyucian untuk mengikis keterasingan tersebut.<\/li><li><strong>Nafs al-Mu\u1e6dma\u2019innah:<\/strong> Keadaan jiwa yang telah mencapai kedamaian mutlak karena berhasil merealignasi kesadaran egonya dengan Kesadaran Ilahi. Pada Maqam inilah &#8220;Rupa Ilahi&#8221; mencermin secara jernih. Jiwa tidak lagi terombang-ambing oleh determinisme eksternal, melainkan bertindak sebagai instrumen kasih dan kehendak-Nya.<\/li><\/ul><p>Proses transformasi ini paralel dengan apa yang dalam risalah <em>Sirrul Asrar<\/em> dijelaskan sebagai penyucian tiga tingkatan: penyucian jasad dari tindakan merusak, penyucian qalbu dari sifat-sifat tercela (<em>al-a\u1e63f\u0101t al-dham\u012bmah<\/em>), dan penyucian <em>sirr<\/em> (kedalaman rahasia batin) dari keterikatan kepada selain Allah (<em>m\u0101 siw\u0101 All\u0101h<\/em>).<\/p><p>Ketika cermin batin telah bersih melalui <em>riy\u0101\u1e0dah<\/em> dan <em>muj\u0101hadah<\/em>, maka sifat-sifat yang terpancar dari manusia adalah pantulan dari Sifat Ilahi. Kasih sayangnya kepada sesama makhluk bukan lagi sekadar dorongan simpati emosional-psikologis, melainkan pancaran dari <em>al-Ra\u1e25m\u0101n<\/em> dan <em>al-Ra\u1e25\u012bm<\/em>. Keadilannya merupakan refleksi dari <em>al-\u2018Adl<\/em>. Di titik inilah manusia mencapai derajat <em>Ins\u0101n K\u0101mil<\/em>\u2014manusia utuh yang mengintegrasikan dimensi kebumian (<em>mulk<\/em>) dan dimensi kesucian langit (<em>malak\u016bt<\/em>).<\/p><h4><br \/>Implikasi Interpersonal: Memandang Rupa Ilahi pada Yang Lain<\/h4><p>Pemahaman bahwa manusia diciptakan dalam Rupa Sang Maha Kuasa memiliki implikasi etis dan sosial yang radikal. Hal ini membentangkan paradigma baru dalam <em>psikologi ruh interpersonal<\/em>.<\/p><p>Jika setiap individu membawa tiupan Ruh Ilahi dan merupakan lokus pembiasan <em>\u015a\u016brat All\u0101h<\/em>, maka cara kita memandang, memperlakukan, dan berinteraksi dengan sesama manusia harus mengalami metamorfosis mendasar. Hubungan interpersonal tidak lagi didasari atas kalkulasi utilitarian, eksploitasi, atau simplifikasi hierarkis.<\/p><p>Sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur&#8217;an mengenai kemuliaan primordial manusia:<\/p><p><em>&#8220;Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam&#8230;&#8221;<\/em> <strong>(Q.S. al-Isr\u0101\u2019 17: 70)<\/strong><\/p><p>Kemuliaan ini (<em>kar\u0101mah ins\u0101n\u012byah<\/em>) bersifat ontologis dan inheren. Dalam konteks ini, melukai, menindas, atau merendahkan martabat manusia pada hakikatnya adalah bentuk pengabaian terhadap jejak Keagungan Ilahi yang terpatri dalam diri mereka.<\/p><p>Dalam ruang dialog interpersonal, menyadari &#8220;Rupa Ilahi&#8221; pada orang lain menuntut lahirnya kesadaran empatik yang dalam. Setiap jiwa yang kita jumpai\u2014dengan segala keterbatasan, luka, dan dinamika perilakunya\u2014sedang berada dalam perjalanan evolusi spiritual untuk mengenali kembali hakikat dirinya. Ketika kita berdialog dengan sesama, kita tidak hanya berhadapan dengan konstruksi sosial atau kepribadian luar (<em>persona<\/em>) mereka, melainkan sedang berhadapan dengan sebuah cermin yang juga memantulkan Cahaya yang sama.<\/p><h4><br \/>Kontemplasi dan Manunggalnya Kesadaran<\/h4><p>Bagaimana gagasan ini mengkristal dalam kehidupan praktis sehari-hari? Jawabannya terletak pada pilar <em>Kontemplasi<\/em>\u2014upaya sadar untuk menarik diri dari kebisingan persepsi indrawi guna menyelami kedalaman <em>sirr<\/em>.<\/p><p>Kontemplasi bukanlah pelarian dari realitas material, melainkan penyelarasan kembali (<em>realignment<\/em>) fokus kesadaran. Ketika seseorang melakukan hening kontemplatif, ia secara bertahap melepas identifikasi dirinya dari objek-objek sementara:<\/p><ol><li>&#8220;Saya bukan sekadar tubuh fisik ini.&#8221;<\/li><li>&#8220;Saya bukan sekadar emosi yang naik turun ini.&#8221;<\/li><li>&#8220;Saya bukan sekadar pikiran dan konsep-konsep abstrak ini.&#8221;<\/li><\/ol><p>Ketika seluruh identifikasi palsu tersebut gugur, yang tersisa adalah Murni Kesadaran (<em>Pure Consciousness<\/em>)\u2014sebuah ruang batin yang tenang, terang, dan tak bertepi. Di dalam ruang hening itulah terjadi penyatuan persepsi (<em>itti\u1e25\u0101d al-shu\u2018\u016br<\/em>), di mana manusia menyadari bahwa eksistensi dirinya sama sekali tidak terpisah dari Keberadaan Mutlak.<\/p><p>Manunggal dalam konteks ini bukan berarti peleburan zat manusia ke dalam Zat Tuhan secara panteistik (<em>hul\u016bl<\/em> atau <em>itti\u1e25\u0101d<\/em> ontologis yang keliru), melainkan kesadaran penuh bahwa tiada daya, upaya, maupun eksistensi yang mandiri terlepas dari Allah (<em>l\u0101 \u1e25awla wa l\u0101 quwwata ill\u0101 bill\u0101h<\/em>). Manusia menyadari dirinya sebagai bayangan yang sepenuhnya bergantung pada Yang Memiliki Bayangan.<\/p><p>Mengenali bahwa &#8220;Setiap Manusia adalah Rupa Sang Maha Kuasa&#8221; merupakan seruan penyingkapan spiritual untuk bangkit dari kesadaran ego yang sempit menuju Kesadaran Ilahiah yang universal.<\/p><p>Kita tidak dituntut untuk mencari Tuhan di tempat yang jauh di luar sana, sebab jejak dan cetakan-Nya telah terpatri dalam kedalaman jiwa kita sendiri. Namun, penyingkapan ini menuntut keberanian spiritual untuk membersihkan cermin batin dari jelaga egoisme, keterikatan duniawi, dan ilusi terpisah dari Realitas Mutlak. Ketika cermin itu bersih, manusia tidak lagi melihat dirinya sebagai makhluk yang kerdil dan tak berdaya, melainkan sebagai wadah yang memancarkan Keindahan, Kasih, dan Keagungan Sang Pencipta di muka bumi.<\/p><h4><br \/>Sumber<\/h4><ul><li>Surah al-Isr\u0101\u2019 (17) Ayat 70 <em>Konteks Penggunaan:<\/em> Dirujuk pada pembahasan pilar <em>Kar\u0101mah Ins\u0101n\u012byah<\/em> (kemuliaan primordial manusia yang dianugerahkan Tuhan tanpa memandang latar belakang suku, ras, atau keyakinan).<\/li><li>Al-Ghaz\u0101l\u012b, Ab\u016b \u1e24\u0101mid Mu\u1e25ammad ibn Mu\u1e25ammad. (1982). <em>I\u1e25y\u0101\u2019 \u2018Ul\u016bm al-D\u012bn<\/em>. Beirut: D\u0101r al-Ma\u2018rifah. 4 Jilid. <em>Rincian Bagian yang Diacu:<\/em> Jilid 3, Kit\u0101b <em>Shar\u1e25 \u2018Aj\u0101\u2019ib al-Qalb<\/em> (Keterangan Keajaiban Hati): Menguraikan epistemologi pengenalan diri (<em>ma\u2018rifat al-nafs<\/em>) sebagai sarana mengenal Tuhan (<em>ma\u2018rifat All\u0101h<\/em>), serta fungsi qalbu sebagai cermin spiritual. Jilid 3, Kit\u0101b <em>Riy\u0101\u1e0dat al-Nafs<\/em> (Latihan Jiwa): Menguraikan tingkatan jiwa (<em>al-nafs al-amm\u0101rah<\/em>, <em>al-laww\u0101mah<\/em>, dan <em>al-mu\u1e6dma\u2019innah<\/em>) serta proses penyucian batin (<em>tazkiyat al-nafs<\/em>).<\/li><li>Frankl, Viktor E. (2006). <em>Man\u2019s Search for Meaning<\/em>. Boston: Beacon Press. ISBN: 978-0-8070-1429-5. <em>Rincian Bagian yang Diacu:<\/em> Section Two: &#8220;Logotherapy in a Nutshell&#8221; \u2013 Penjelasan mengenai <em>will to meaning<\/em> serta dimensi noetik (spiritual) manusia dalam mencari makna eksistensial.<\/li><li>Jung, Carl Gustav. (1969). <em>The Archetypes and the Collective Unconscious<\/em>. Translated by R.F.C. Hull. Volume 9, Part 1 of The Collected Works of C.G. Jung. Princeton, New Jersey: Princeton University Press. ISBN: 978-0-691-01833-1. <em>Rincian Bagian yang Diacu:<\/em> Chapter 1: &#8220;Archetypes of the Collective Unconscious&#8221; &amp; Chapter 6: &#8220;Conscious, Unconscious, and Individuation&#8221; \u2013 Penjelasan mengenai arketipe <em>Self<\/em>, <em>Imago Dei<\/em>, dan dinamika pencapaian keutuhan psikologis.<\/li><li>Yedi Supriadi. <em>Filsafat Jiwa (Sirrul Asrar)<\/em>.<\/li><li>Yedi Supriadi. <em>Filsafat Qalbu (Sirrul Asrar)<\/em>.<\/li><li>Yedi Supriadi. <em>Filsafat Ruh (Sirrul Asrar)<\/em>.<\/li><li>Yedi Supriadi. <em>Nafsu Mutmainah Potensi Diri<\/em>.<\/li><li>Yedi Supriadi. <em>Psikologi Alam Bawah Sadar<\/em>.<\/li><\/ul>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Membaca Rupa Ilahi dalam Diri: Ontologi \u015a\u016brat All\u0101h dan Dialektika Transformasi Diri Di hadapan cermin, manusia senantiasa berhadapan dengan dualitas yang membingungkan: keintiman eksistensial yang begitu erat sekaligus asing. Kita mengenali kontur wajah, bentuk fisik, dan rekaman ingatan yang melingkupi eksistensi harian. Namun, ketika pertanyaan mendasar diajukan\u2014siapa sebenarnya yang sedang memandang dari balik manik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-3433","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"Yedi Supriadi","author_link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?author=2"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/yedisupriadi.com\/?cat=11\" rel=\"category\">Article<\/a>","rttpg_excerpt":"\u00a0 Membaca Rupa Ilahi dalam Diri: Ontologi \u015a\u016brat All\u0101h dan Dialektika Transformasi Diri Di hadapan cermin, manusia senantiasa berhadapan dengan dualitas yang membingungkan: keintiman eksistensial yang begitu erat sekaligus asing. Kita mengenali kontur wajah, bentuk fisik, dan rekaman ingatan yang melingkupi eksistensi harian. Namun, ketika pertanyaan mendasar diajukan\u2014siapa sebenarnya yang sedang memandang dari balik manik&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3433"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3433\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3442,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3433\/revisions\/3442"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}