{"id":3425,"date":"2026-09-06T12:45:03","date_gmt":"2026-09-06T12:45:03","guid":{"rendered":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3425"},"modified":"2026-09-06T12:52:07","modified_gmt":"2026-09-06T12:52:07","slug":"kenali-siapa-dirimu-setiap-manusia-adalah-rupa-sang-maha-kuasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3425","title":{"rendered":"KENALI SIAPA DIRIMU? SETIAP MANUSIA ADALAH RUPA SANG MAHA KUASA"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3425\" class=\"elementor elementor-3425\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-35a4121 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"35a4121\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-4fa5068 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"4fa5068\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h2>\u00a0<\/h2><h4>Merekam Citra Ilahi: Ontologi Diri dan Realisasi Manifestasi Suci dalam Diri Manusia<\/h4><p>Manusia sering kali terjebak dalam krisis eksistensial yang berakar dari kekeliruan memandang hakikat dirinya. Dalam dinamika kehidupan modern yang serba terfragmentasi, diri kerap diidentikkan sebatas entitas biologis, susunan fungsi psikologis, atau akumulasi peran sosial. Ketika identitas diri direduksi hanya pada aspek-aspek empiris yang fana ini, manusia kehilangan jangkar ontologisnya. Ia menjadi asing terhadap kedalaman batinnya sendiri. Persoalan mendasar yang perlu kita urai kembali adalah: siapakah sesungguhnya diri manusia itu ketika seluruh atribut lahiriah dan bentukan sosial dikupas tuntas?<\/p><p>Untuk menjawab persoalan ini, kita harus melampaui pemahaman dangkal tentang identitas. Dalam karya-karya saya mengenai <em>Filsafat Jiwa<\/em>, <em>Filsafat Ruh<\/em>, dan <em>Nafsu Mutmainah Potensi Diri<\/em>, saya terus menggarisbawahi bahwa kesadaran manusia bukan sekadar produk sampingan dari aktivitas material atau struktur saraf. Manusia memuat sebuah rahasia ilahiah yang inheren sebuah jejak ontologis yang menghubungkan eksistensi fana ini dengan Yang Maha Mutlak. Ungkapan &#8220;kenali siapa dirimu, setiap manusia adalah rupa Sang Maha Kuasa&#8221; bukanlah klaim panteistik yang mengaburkan batas antara Pencipta dan ciptaan, melainkan sebuah penegasan ontologis mengenai prinsip <em>imago Dei<\/em> atau citra ilahiah (<em>\u1e63\u016brah<\/em>) yang diamanahkan kepada manusia.<\/p><p>\u00a0<\/p><h4>Dialektika Citra Ilahi: Antara Penampakan dan Hakikat<\/h4><p>Dalam tradisi pemikiran Islam, gagasan mengenai manusia sebagai cermin atau rupa manifestasi ilahiah memiliki akar yang sangat dalam. Al-Qur&#8217;an secara eksplisit menyebutkan proses peniupan ruh Tuhan ke dalam diri manusia:<\/p><p><em>&#8220;Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.&#8221;<\/em> (Q.S. al-\u1e24ijr 15: 29) Ayat ini mengindikasikan adanya struktur ganda dalam eksistensi manusia: dimensi konstitusi fisik yang berasal dari tanah (<em>al-bas\u0127ar<\/em>) dan dimensi substansi spiritual yang bersumber dari tiupan ruh ilahiah (<em>al-r\u016b\u1e25<\/em>). Ab\u016b \u1e24\u0101mid al-Ghaz\u0101l\u012b dalam <em>I\u1e25y\u0101\u2019 \u2018Ul\u016bm al-D\u012bn<\/em> (khususnya pada <em>Kit\u0101b Shar\u1e25 \u2018Aj\u0101\u2019ib al-Qalb<\/em>) menegaskan bahwa inti hakikat manusia bukanlah jasmani yang lapuk, melainkan entitas spiritual (<em>la\u1e6d\u012bfah rabb\u0101n\u012byah<\/em>) yang dikenal sebagai <em>qalb<\/em> atau <em>r\u016b\u1e25<\/em>. Bagi al-Ghaz\u0101l\u012b, pengenalan terhadap hakikat diri (<em>ma\u2018rifat al-nafs<\/em>) merupakan satu-satunya pintu gerbang yang sah untuk mengenali Tuhan (<em>ma\u2018rifat All\u0101h<\/em>). Hati berfungsi sebagai cermin; apabila cermin tersebut dibersihkan dari karat kecenderungan material (<em>tazkiyat al-nafs<\/em>), ia akan memantulkan kualitas-kualitas keilahian. Namun, bagaimana konsep ini berdialog dengan tradisi filsafat Barat yang juga bergulat dengan hakikat <em>self<\/em> atau diri?<\/p><p>Jika kita menengok pada pencerahan filsafat modern Barat, Ren\u00e9 Descartes mencoba membangun kepastian eksistensial melalui <em>cogito ergo sum<\/em> menempatkan kesadaran subjek yang berpikir (<em>res cogitans<\/em>) sebagai fondasi realitas. Namun, kepastian Cartesian ini menghasilkan dikotomi tajam antara subjek dan objek, serta memisahkan kesadaran dari dimensi transendental. Berbeda dengan pendekatan Cartesian yang murni rasional-subjektif, fenomenologi Martin Heidegger dalam <em>Sein und Zeit<\/em> mencoba memahami eksistensi manusia sebagai <em>Dasein<\/em> (&#8220;berada-di-sana&#8221;) yang terlempar ke dalam dunia. Heidegger melihat bahwa manusia senantiasa berada dalam kondisi terasing dari Autentisitas Eksistensinya (<em>Eigentlichkeit<\/em>) karena tenggelam dalam kesibukan kebiasaan massa (<em>das Man<\/em>).<\/p><p>Persinggungan antara pandangan tasawuf-epistemik dan fenomenologi eksistensial ini memperlihatkan satu titik temu: manusia modern mengalami pengasingan dari dirinya yang sejati (<em>self-alienation<\/em>). Namun, perbedaannya terletak pada landasan ontologisnya. Bagi Heidegger, <em>Dasein<\/em> bergerak menuju ketiadaan (<em>Being-towards-death<\/em>), sedangkan dalam kerangka <em>Filsafat Ruh<\/em> yang saya kembangkan, eksistensi manusia bergerak menuju Sang Sumber Eksistensi (<em>Being-towards-God<\/em>). Kesadaran bahwa &#8220;manusia adalah rupa Sang Maha Kuasa&#8221; menempatkan kesadaran manusia bukan sebagai subjek yang terisolasi, melainkan sebagai wadah manifestasi (<em>ma\u1e93har<\/em>) dari sifat-sifat ilahiah.<\/p><h4><br \/>Keterbatasan Psikologi Modern dan Perluasan Realitas Batin<\/h4><p>Dalam ranah psikologi Barat kontemporer, pemahaman tentang alam bawah sadar (<em>unconscious<\/em>) telah mengalami transformasi panjang. Sigmund Freud mereduksi alam bawah sadar sebagai tempat penampungan dorongan-dorongan instingtual (<em>id<\/em>) dan hasrat tertekan yang bersifat patologis. Pemikiran ini kemudian diperluas oleh Carl Gustav Jung melalui konsep <em>collective unconscious<\/em> dan <em>archetypes<\/em>. Jung menyadari bahwa batin manusia mengandung motif-motif universal dan kedalaman spiritual yang melampaui pengalaman individual. Bagi Jung, proses <em>individuation<\/em> menjadi diri yang utuh memerlukan integrasi antara kesadaran ego dengan ketidaksadaran kolektif, termasuk menghadapi <em>shadow<\/em> dan menyatu dengan <em>Self<\/em>.<\/p><p>Kendati pemikiran Jung mendekati batas-batas spiritualitas, terdapat batasan epistemologis yang mendasar yang tidak boleh kita campuradukkan secara paksa. <em>Self<\/em> dalam psikologi Jungian tetap berada dalam domain psikis imanen sebuah struktur intra-psikologis manusia. Ia tidak melompati batas menuju realitas transendental yang berakar pada penyaksian ilahiah (<em>mu\u0161h\u0101hadah<\/em>).<\/p><p>Dalam karya saya <em>Psikologi Alam Bawah Sadar<\/em> dan <em>Psikologi Tuhan<\/em>, saya menawarkan perluasan atas keterbatasan kerangka psikologis imanen tersebut. Alam bawah sadar manusia bukan sekadar gudang memori emosional atau struktur arketipal yang terisolasi dalam <em>psyche<\/em>. Kedalaman batin manusia yang dalam tradisi tasawuf diidentifikasi melalui struktur <em>nafs<\/em>, <em>qalb<\/em>, <em>r\u016b\u1e25<\/em>, dan <em>sirr<\/em> merupakan medan perjumpaan antara dimensi mikroksmos (<em>al-\u2018\u0101lam al-\u1e63agh\u012br<\/em>) dan makroksmos (<em>al-\u2018\u0101lam al-kab\u012br<\/em>).<\/p><p>Ketika Al-Qur&#8217;an menyatakan:<\/p><p><em>&#8220;Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur&#8217;an itu adalah benar&#8230;&#8221;<\/em> (Q.S. Fu\u1e63\u1e63ilat 41: 53)<\/p><p>Di sini ditegaskan adanya korespondensi ontologis antara tanda-tanda kosmologis di luar (<em>\u0101f\u0101q<\/em>) dan tanda-tanda eksistensial di dalam diri (<em>anfus<\/em>). Cermin internal manusia memiliki tingkat kedalaman yang melampaui <em>unconscious<\/em> psikologis. Batin manusia memuat potensi untuk menangkap ilham ilahiah dan merefleksikan <em>Asm\u0101\u2019 ul-\u1e24usn\u0101<\/em> (Nama-Nama Indah Tuhan). Namun, kita harus berhati-hati agar tidak jatuh pada simplifikasi konseptual. Menyatakan bahwa <em>psyche<\/em> adalah <em>r\u016b\u1e25<\/em>, atau bahwa <em>unconscious<\/em> adalah <em>nafs<\/em>, merupakan tindakan pencampuran konsep yang tidak cermat. <em>Nafs<\/em> dalam struktur psikologi Islam memiliki gradasi dinamis mulai dari <em>nafs al-amm\u0101rah<\/em> (jiwa yang mendorong pada keburukan), <em>nafs al-laww\u0101mah<\/em> (jiwa yang menyesali diri), hingga mencapai <em>nafs al-mu\u1e6dma\u2019innah<\/em> (jiwa yang tenang). <em>Nafs al-mu\u1e6dma\u2019innah<\/em> bukanlah sekadar kondisi kesehatan mental atau ego yang stabil secara psikologis, melainkan pencapaian ontologis di mana jiwa telah terekonsiliasi sepenuhnya dengan kehendak ilahiah.<\/p><h4><br \/>Aktualisasi <em>Nafsu Mutmainah<\/em>: Dari Citra Menuju Transformasi<\/h4><p>Bagaimana potensi &#8220;rupa Sang Maha Kuasa&#8221; dalam diri manusia tersebut diaktualisasikan dalam konteks eksistensi nyata?<\/p><p>Penciptaan manusia sebagai manifestasi suci tidak secara otomatis membuat setiap individu mencerminkan keagungan tersebut. Citra ilahiah dalam diri manusia bersifat potensial (<em>bi al-quwwah<\/em>) yang membutuhkan proses penyucian dan latihan batin (<em>riy\u0101\u1e0dah<\/em> dan <em>tazkiyah<\/em>) untuk menjadi aktual (<em>bi al-fi\u2018l<\/em>). Tanpa proses ini, cermin batin manusia akan tertutup oleh <em>\u1e25ij\u0101b<\/em> (penutup) berupa egosentrisme, dominasi dorongan kehewanan, dan ketidaksadaran spiritual.<\/p><p>Dalam konteks ini, pandangan psikologi eksistensial seperti Viktor Frankl dalam <em>Man\u2019s Search for Meaning<\/em> memberikan wawasan bernilai mengenai dorongan manusia menuju makna (<em>will to meaning<\/em>). Frankl mengamati bahwa penderitaan dan kehampaan eksistensial terjadi ketika manusia kehilangan orientasi makna transendental. Namun, sementara logoterapi Frankl menekankan penemuan makna melalui karya, cinta, dan sikap terhadap penderitaan dalam tataran eksistensi duniawi, kerangka <em>Konsep Transformasi Diri<\/em> yang saya kembangkan menempatkan puncak penemuan makna tersebut pada penyatuan kehendak diri dengan kehendak ilahiah (<em>fan\u0101\u2019<\/em> dan <em>baq\u0101\u2019<\/em>).<\/p><p>Proses transformasi diri bergerak melalui tiga tahapan konseptual utama:<\/p><ol><li><strong>Penyadaran Epistematik (<em>Yaq\u1e93ah<\/em>):<\/strong> Manusia menyadari keterasingan dirinya dan mengenali bahwa identitas hakikinya bukanlah akumulasi materi atau status sosial, melainkan tiupan ruh ilahiah. Ini adalah titik awal kebangunan kesadaran.<\/li><li><strong>Pembersihan Cermin Batin (<em>Tazkiyah<\/em>):<\/strong> Mengikis kecenderungan <em>nafs al-amm\u0101rah<\/em> yang egosentris. Pada tahap ini, terjadi dialog kritis antara akal rasional dan intuisi spiritual (<em>ba\u1e63\u012brah<\/em>).<\/li><li><strong>Penyelarasan Sifat (<em>Takhalluq<\/em>):<\/strong> Manusia menyerap dan memanifestasikan Sifat-Sifat Tuhan dalam batas-batas kemanusiaannya seperti kasih sayang, keadilan, ilmu, dan kebijaksanaan. Di sinilah manusia menjalankan fungsinya secara nyata sebagai <em>khali\u0304fah<\/em> (wakil) Tuhan di bumi.<\/li><\/ol><p>Ketika seseorang mencapai tingkatan <em>nafs al-mu\u1e6dma\u2019innah<\/em>, tindakan dan pemikirannya tidak lagi didorong oleh ego pribadi yang sempit, melainkan oleh kesadaran universal yang bersumber dari Cahaya Ilahi. Ia melihat realitas bukan dengan pandangan terpisah, melainkan dengan pandangan tauhid yang menyatukan.<\/p><h4><br \/>Implikasi Eksistensial dan Etis<\/h4><p>Mengenali bahwa setiap manusia memuat rupa dan refleksi keagungan Sang Maha Kuasa memiliki implikasi radikal terhadap etika kemanusiaan dan pandangan dunia kita:<\/p><p>Pertama, <strong>Pemusnahan Egosentrisme Ilusi.<\/strong> Ketika manusia menyadari bahwa keagungan yang ada dalam dirinya bukanlah milik pribadinya, melainkan pantulan dari Cahaya Ilahi, runtuhlah segala bentuk kesombongan, klaim kebenaran sepihak, dan nafsu menguasai. Ego menyadari posisinya sebagai cermin, bukan Sumber Cahaya.<\/p><p>Kedua, <strong>Pengakuan atas Martabat Kemanusiaan Universal (<em>Kar\u0101mah Ins\u0101n\u012byah<\/em>).<\/strong> Jika setiap manusia memuat tiupan ruh yang sama dan memiliki potensi menjadi refleksi ilahiah, maka penindasan, diskriminasi, dan dehumanisasi terhadap sesama manusia merupakan pelanggaran ontologis terhadap citra Tuhan itu sendiri. Penghormatan terhadap manusia lain menjadi bagian tak terpisahkan dari penghormatan kepada Penciptanya.<\/p><p>Ketiga, <strong>Transformasi Relasi Interpersonal.<\/strong> Dalam perspektif <em>Psikologi Ruh Interpersonal<\/em>, interaksi antarmanusia berubah dari hubungan subjek-objek (sebagaimana dikritik oleh Martin Buber dalam <em>I and Thou<\/em>) menjadi perjumpaan sakral di mana setiap individu memandang dan memperlakukan orang lain sebagai sesama pembawa rahasia keilahian.<\/p><p>Mengenali diri sebagai rupa Sang Maha Kuasa bukanlah puncak pencapaian yang membuat kita berhenti, melainkan sebuah awal tanggung jawab eksistensial. Ia adalah panggilan berkelanjutan untuk membebaskan diri dari belenggu ilusi material, membersihkan cermin batin, dan menghadirkan kedamaian, keadilan, serta kasih sayang ilahiah dalam panggung sejarah manusia.<\/p><h5><br \/><strong>Sumber<\/strong><\/h5><ul><li>Al-Qur&#8217;an al-Kar\u012bm.<\/li><li>Al-Ghaz\u0101l\u012b, Ab\u016b \u1e24\u0101mid Mu\u1e25ammad ibn Mu\u1e25ammad. (1982). <em>I\u1e25y\u0101\u2019 \u2018Ul\u016bm al-D\u012bn<\/em>. Beirut: D\u0101r al-Ma\u2018rifah. (Jilid 3, <em>Kit\u0101b Shar\u1e25 \u2018Aj\u0101\u2019ib al-Qalb<\/em> dan <em>Kit\u0101b Riy\u0101\u1e0dat al-Nafs<\/em>).<\/li><li>Descartes, Ren\u00e9. (1996). <em>Meditations on First Philosophy<\/em>. Disunting oleh Cottingham, J. Cambridge: Cambridge University Press.<\/li><li>Frankl, Viktor E. (2006). <em>Man\u2019s Search for Meaning<\/em>. Boston: Beacon Press.<\/li><li>Heidegger, Martin. (1962). <em>Being and Time<\/em>. Diterjemahkan oleh John Macquarrie &amp; Edward Robinson. London: SCM Press.<\/li><li>Jung, Carl Gustav. (1969). <em>The Archetypes and the Collective Unconscious<\/em>. Collected Works Vol. 9, Part 1. Princeton: Princeton University Press.<\/li><li>Supriadi, Yedi. <em>Filsafat Jiwa (Sirrul Asrar)<\/em>.<\/li><li>Supriadi, Yedi. <em>Filsafat Ruh (Sirrul Asrar)<\/em>.<\/li><li>Supriadi, Yedi. <em>Nafsu Mutmainah Potensi Diri<\/em>.<\/li><li>Supriadi, Yedi. <em>Psikologi Alam Bawah Sadar<\/em>.<\/li><li>upriadi, Yedi. <em>Psikologi Tuhan Membaca Pikiran Tuhan<\/em>.<\/li><\/ul>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Merekam Citra Ilahi: Ontologi Diri dan Realisasi Manifestasi Suci dalam Diri Manusia Manusia sering kali terjebak dalam krisis eksistensial yang berakar dari kekeliruan memandang hakikat dirinya. Dalam dinamika kehidupan modern yang serba terfragmentasi, diri kerap diidentikkan sebatas entitas biologis, susunan fungsi psikologis, atau akumulasi peran sosial. Ketika identitas diri direduksi hanya pada aspek-aspek empiris [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-3425","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"Yedi Supriadi","author_link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?author=2"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/yedisupriadi.com\/?cat=11\" rel=\"category\">Article<\/a>","rttpg_excerpt":"\u00a0 Merekam Citra Ilahi: Ontologi Diri dan Realisasi Manifestasi Suci dalam Diri Manusia Manusia sering kali terjebak dalam krisis eksistensial yang berakar dari kekeliruan memandang hakikat dirinya. Dalam dinamika kehidupan modern yang serba terfragmentasi, diri kerap diidentikkan sebatas entitas biologis, susunan fungsi psikologis, atau akumulasi peran sosial. Ketika identitas diri direduksi hanya pada aspek-aspek empiris&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3425","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3425"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3425\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3430,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3425\/revisions\/3430"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3425"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3425"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3425"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}