{"id":3357,"date":"2026-09-02T07:49:46","date_gmt":"2026-09-02T07:49:46","guid":{"rendered":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3357"},"modified":"2026-09-02T07:56:17","modified_gmt":"2026-09-02T07:56:17","slug":"mursyid-dan-jalan-menemukan-jati-diri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3357","title":{"rendered":"Mursyid dan Jalan Menemukan Jati Diri"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3357\" class=\"elementor elementor-3357\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-703a62f e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"703a62f\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-bf33e76 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"bf33e76\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>\u00a0<\/p><p>Ada satu persoalan yang sering luput ketika manusia berbicara tentang pencarian spiritual: apakah seseorang benar-benar sedang mencari kebenaran, atau sebenarnya sedang mencari pembenaran bagi dirinya sendiri?<\/p><p>Pertanyaan ini menjadi penting ketika perjalanan spiritual ditempatkan dalam kerangka pembentukan jati diri. Sebab manusia tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, tetapi juga dengan keterbatasan dalam mengenali dirinya sendiri. Apa yang dianggap sebagai intuisi dapat bercampur dengan keinginan. Apa yang disebut keyakinan dapat dipengaruhi oleh ego. Bahkan pengalaman batin yang terasa sangat meyakinkan belum tentu menunjukkan kejernihan kesadaran.<\/p><p>Dalam pembahasan tentang spiritualitas dan intuisi dalam pembentukan jati diri, persoalan tersebut membawa kita pada satu kebutuhan yang lebih mendasar: kebutuhan akan bimbingan. Dalam tradisi tasawuf, bimbingan ini menemukan bentuknya dalam konsep <em>mursyid<\/em>.<\/p><p>Namun, saya melihat bahwa mursyid tidak cukup dipahami sekadar sebagai guru yang memberikan ajaran spiritual. Persoalannya jauh lebih dalam. Mursyid berhubungan dengan proses seseorang belajar melihat dirinya secara lebih jernih.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><h5>Mursyid Bukan Sekadar Pemilik Pengetahuan<\/h5><p>Secara umum, <em>mursyid<\/em> dipahami sebagai pembimbing spiritual. Dalam tradisi tasawuf, istilah tersebut berkaitan dengan seseorang yang membimbing murid dalam perjalanan keruhanian. Literatur mengenai al-Ghazali, misalnya, menunjukkan bahwa guru spiritual ditempatkan bukan hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi sebagai pembimbing yang membantu proses pendidikan jiwa, pembentukan akhlak, dan pembersihan diri.<\/p><p>Di sini terdapat perbedaan penting antara guru yang mengajarkan informasi dan mursyid yang membimbing transformasi. Pengetahuan dapat dipindahkan melalui kata-kata. Transformasi diri tidak sesederhana itu. Seseorang dapat mengetahui banyak hal mengenai kesabaran, tetapi belum tentu menjadi pribadi yang sabar. Ia dapat berbicara tentang keikhlasan, tetapi belum tentu mampu menerima ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ia dapat memahami konsep <em>tazkiyah al-nafs<\/em>, tetapi masih mungkin tidak menyadari bagaimana <em>nafs<\/em> bekerja dalam dirinya sendiri.<\/p><p>Perjalanan spiritual membutuhkan lebih daripada penambahan pengetahuan. Ia membutuhkan proses pengujian terhadap diri. Di sinilah keberadaan mursyid memperoleh makna yang lebih mendalam. Mursyid bukan hanya orang yang mengatakan ke mana seseorang harus berjalan. Ia membantu murid mengenali keadaan dirinya ketika berjalan.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><h5>Persoalan Terbesar Adalah Ketidakmampuan Melihat Diri<\/h5><p>Manusia mempunyai kemampuan luar biasa untuk menafsirkan dirinya secara menguntungkan. Kegigihan dapat disebut prinsip. Kekerasan dapat disebut ketegasan. Keinginan dapat disebut intuisi. Ambisi dapat disebut panggilan jiwa. Keterikatan dapat disebut cinta. Bahkan ego dapat menyamar dalam bentuk kesalehan.<\/p><p>Problem spiritual tidak selalu terletak pada kurangnya pengetahuan tentang Tuhan. Problemnya dapat muncul karena manusia belum mampu membedakan suara terdalam dirinya: mana yang berasal dari kejernihan, mana yang berasal dari <em>nafs<\/em>, dan mana yang sekadar merupakan keinginan yang diberi legitimasi spiritual. Dari kerangka tersebut, saya melihat fungsi mursyid dapat dipahami sebagai bagian dari proses koreksi kesadaran.<\/p><p>Murid membutuhkan seseorang yang dapat membantu memperlihatkan apa yang tidak mampu ia lihat tentang dirinya sendiri. Ini bukan berarti mursyid menggantikan kesadaran murid. Justru sebaliknya, bimbingan yang sehat semestinya membantu murid menjadi semakin sadar. Hubungan guru dan murid bukan hubungan yang bertujuan membuat murid selamanya bergantung kepada figur guru. Orientasinya adalah pertumbuhan.<\/p><p>Di sinilah konsep <em>adab<\/em> menjadi penting. Relasi spiritual bukan sekadar hubungan transfer pengetahuan, melainkan hubungan pendidikan diri. Kajian mengenai relasi mursyid\u2013salik dalam pemikiran al-Ghazali juga menekankan bahwa pendidikan spiritual berlangsung melalui keteladanan, pendampingan, dialog korektif, dan latihan yang membentuk karakter.<\/p><p>\u00a0<\/p><h5>Mursyid sebagai Cermin, Bukan Pengganti Diri<\/h5><p>Ada kecenderungan yang perlu diwaspadai dalam kehidupan spiritual: murid memindahkan seluruh otoritas atas dirinya kepada guru. Pada tahap tertentu, penghormatan kepada guru dapat berubah menjadi ketergantungan. Nasihat tidak lagi menjadi bahan perenungan, tetapi diterima tanpa proses kesadaran. Figur mursyid kemudian menjadi pusat identitas baru, sementara pencarian terhadap diri sendiri justru berhenti.<\/p><p>Di sinilah konsep mursyid harus dibaca secara kritis. Jika tujuan perjalanan spiritual adalah pembentukan manusia yang semakin sadar, maka mursyid tidak boleh menjadi pengganti <em>qalb<\/em>, <em>\u2018aql<\/em>, dan tanggung jawab moral murid. Bimbingan harus menumbuhkan kemampuan murid untuk membedakan, memahami, menilai, dan bertanggung jawab.<\/p><p>Mursyid adalah pembimbing jalan, bukan pemilik jiwa murid. Perbedaan ini sangat penting. Guru yang benar-benar membimbing tidak menjadikan ketergantungan murid sebagai ukuran keberhasilannya. Ia justru membantu murid memperoleh kedewasaan spiritual. Dalam pengertian ini, keberhasilan bimbingan bukan semakin kuatnya keterikatan personal kepada guru, melainkan semakin jernihnya hubungan manusia dengan Allah, semakin tertibnya hubungan dengan dirinya sendiri, dan semakin baik akhlaknya terhadap sesama.<\/p><p>Tradisi pendidikan spiritual al-Ghazali memberikan dasar yang kuat bagi cara pandang ini. Kualitas guru tidak hanya diukur dari keluasan pengetahuan, tetapi juga dari akhlak, latihan diri, keteladanan, dan kemampuan membimbing murid menuju perbaikan karakter.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><h5>Siapa yang Sebenarnya Sedang Dibimbing?<\/h5><p>Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik: apakah mursyid membimbing manusia menuju suatu keadaan yang sama bagi setiap orang? Jawabannya tidak sesederhana itu. Setiap manusia membawa sejarah, kecenderungan, pengalaman, luka, pengetahuan, dan struktur kepribadian yang berbeda. Karena itu, bimbingan spiritual tidak semestinya dipahami sebagai proses mencetak manusia menjadi salinan gurunya.<\/p><p>Tujuan pendidikan spiritual bukan reproduksi kepribadian mursyid. Yang dibentuk adalah kemampuan manusia untuk kembali kepada fitrah dan menjalani kehidupannya secara lebih sadar. Dengan perspektif ini, mursyid dapat dipahami sebagai perantara pedagogis dalam proses aktualisasi diri spiritual. Ia membantu murid melihat penghalang-penghalang yang menutupi kejernihan dirinya. Akan tetapi, proses perubahan tetap harus berlangsung dalam diri murid sendiri.<\/p><ol><li>Tidak ada mursyid yang dapat melakukan <em>mujahadah<\/em> menggantikan murid.<\/li><li>Tidak ada guru yang dapat melakukan <em>tazkiyah al-nafs<\/em> atas nama orang lain.<\/li><li>Tidak ada pengetahuan spiritual yang dapat menggantikan latihan hidup.<\/li><li>Murid tetap harus berjalan.<\/li><\/ol><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><p><strong>Ketika Mursyid Dihubungkan dengan Intuisi<\/strong><\/p><p>Persoalan ini menjadi semakin penting apabila dikaitkan dengan intuisi. Intuisi sering dipahami sebagai pengetahuan yang muncul secara spontan, seolah-olah seseorang mengetahui sesuatu sebelum mampu menjelaskan proses berpikir yang melahirkannya. Dalam kerangka spiritual, pengalaman semacam itu dapat memperoleh makna tertentu. Namun, pengalaman batin tidak otomatis identik dengan kebenaran.<\/p><p>Justru di sinilah kebutuhan akan bimbingan menjadi lebih kuat. Tanpa kemampuan membedakan, seseorang dapat menganggap setiap dorongan batin sebagai petunjuk. Padahal dorongan tersebut dapat berasal dari kebiasaan, pengalaman masa lalu, keinginan, ketakutan, atau kecenderungan <em>nafs<\/em>.<\/p><p>Intuisi spiritual membutuhkan disiplin. Mursyid, dalam pengertian ini, bukan orang yang memberikan jawaban atas setiap pengalaman batin murid. Ia membantu murid belajar menguji pengalaman tersebut.<\/p><ol><li>Apakah pengalaman itu membuat seseorang semakin rendah hati atau semakin merasa istimewa?<\/li><li>Apakah ia membuat seseorang semakin jujur atau semakin pandai membenarkan diri?<\/li><li>Apakah ia memperkuat tanggung jawab atau justru melahirkan keinginan untuk menghindari kenyataan?<\/li><li>Apakah ia memperhalus akhlak atau malah menumbuhkan klaim spiritual?<\/li><\/ol><p>Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadikan perjalanan batin tidak berhenti pada pengalaman, tetapi bergerak menuju transformasi.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><h5>Mursyid dan Krisis Otoritas Spiritual<\/h5><p>Pada zaman ketika hampir setiap orang dapat memperoleh pengetahuan keagamaan melalui media digital, kebutuhan terhadap mursyid justru perlu dipikirkan kembali, bukan sekadar dihapuskan. Persoalannya bukan lagi kekurangan informasi. Kita justru menghadapi kelimpahan informasi.<\/p><p>Seseorang dapat membaca kitab, mengikuti kajian, menonton ceramah, mempelajari tasawuf, bahkan mengonsumsi berbagai ajaran spiritual tanpa pernah mengalami proses pembentukan diri yang terarah. Informasi mengenai perjalanan tidak sama dengan perjalanan itu sendiri. Di sisi lain, kelimpahan informasi juga melahirkan persoalan baru: siapa yang memiliki otoritas untuk membimbing? Tidak setiap orang yang memiliki pengikut adalah guru spiritual. Tidak setiap orang yang fasih berbicara tentang tasawuf memiliki kedalaman pengalaman spiritual. Dan tidak setiap pengalaman mistik merupakan tanda kedekatan kepada Allah.<\/p><p>Kebutuhan terhadap mursyid harus disertai kebutuhan terhadap kriteria. Tradisi keilmuan Islam sendiri menaruh perhatian pada kualitas guru. Kajian tentang mursyid dalam pendidikan spiritual al-Ghazali menunjukkan pentingnya pengetahuan, akhlak, latihan diri, dan keteladanan dalam diri seorang pembimbing.<\/p><p>Ini sekaligus menjadi peringatan bagi murid: jangan memilih pembimbing hanya karena karisma. Karisma dapat menarik perhatian, tetapi keteladananlah yang membentuk. Popularitas dapat mengumpulkan pengikut, tetapi kedalaman ilmu dan akhlak yang menentukan kualitas bimbingan.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><h5>Dari Ketergantungan Menuju Kematangan<\/h5><p>Dari pembahasan ini, saya ingin mengembangkan pemahaman tentang mursyid ke arah yang lebih spesifik: <strong>mursyid sebagai pembentuk kemampuan membimbing diri secara sadar<\/strong>.<\/p><p>Pada tahap awal, murid memang membutuhkan bimbingan dari luar. Tetapi proses tersebut idealnya secara bertahap melahirkan keteraturan batin dari dalam. Di sini terdapat gerak yang menarik: dari bimbingan eksternal menuju kesadaran internal. Bukan berarti guru menjadi tidak diperlukan. Yang berubah adalah kualitas hubungan murid dengan bimbingan. Murid tidak lagi sekadar menunggu instruksi, tetapi mulai mampu memahami prinsip di balik instruksi. Ia belajar mengenali keadaan <em>nafs<\/em>-nya, mengaktifkan <em>\u2018aql<\/em>, menjernihkan <em>qalb<\/em>, dan mengarahkan kehidupannya kepada tujuan spiritual yang lebih tinggi.<\/p><p>Mursyid bukanlah titik akhir perjalanan. Ia adalah bagian dari proses yang membantu manusia menjadi lebih mampu berjalan dengan kesadaran. Pada tahap inilah konsep mursyid bertemu dengan persoalan jati diri. Jati diri tidak ditemukan hanya dengan bertanya, \u201cSiapakah saya?\u201d Ia juga dibentuk melalui proses panjang ketika manusia belajar membedakan antara dirinya yang terdalam dan berbagai lapisan yang selama ini ia anggap sebagai dirinya. Mursyid membantu proses pembedaan itu. Ia membantu murid melihat bahwa tidak setiap suara dalam diri harus diikuti, tidak setiap keinginan harus dipenuhi, dan tidak setiap pengalaman batin harus segera diberi makna spiritual.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><h5>Jalan Spiritual yang Dewasa<\/h5><p>Barangkali ukuran paling penting dari sebuah bimbingan spiritual bukanlah seberapa banyak istilah tasawuf yang dikuasai murid, bukan pula seberapa sering ia mengalami pengalaman batin yang luar biasa.<\/p><p>Ukuran yang lebih mendasar adalah perubahan manusia itu sendiri.<\/p><ol><li>Apakah ia menjadi lebih jujur?<\/li><li>Apakah ia semakin mampu mengendalikan <em>nafs<\/em>?<\/li><li>Apakah ia lebih rendah hati?<\/li><li>Apakah <em>qalb<\/em>-nya semakin peka terhadap kebaikan?<\/li><li>Apakah akalnya semakin jernih?<\/li><li>Apakah hubungannya dengan manusia lain menjadi lebih beradab?<\/li><\/ol><p>Dan yang paling penting: apakah seluruh proses itu membawanya kepada kehidupan yang lebih sadar di hadapan Allah? Jika jawabannya bergerak ke arah tersebut, maka mursyid tidak sekadar menjalankan fungsi sebagai guru. Ia menjalankan fungsi pendidikan spiritual yang sesungguhnya.<\/p><p>Dari sini saya melihat bahwa persoalan mursyid pada akhirnya bukan terutama persoalan tentang siapa yang harus kita ikuti. Persoalan yang lebih dalam adalah <strong>bagaimana seseorang dapat dibimbing tanpa kehilangan tanggung jawab atas kesadarannya sendiri<\/strong>.<\/p><ol><li>Bimbingan yang sehat tidak mematikan pencarian.<\/li><li>Ia menertibkannya.<\/li><li>Tidak menghapus akal.<\/li><li>Ia menjernihkannya.<\/li><li>Tidak menggantikan hati.<\/li><li>Ia membantu hati mengenali apa yang selama ini menghalanginya.<\/li><li>Dan tidak menciptakan ketergantungan tanpa akhir.<\/li><li>Ia mengantarkan manusia kepada kematangan spiritual.<\/li><\/ol><p>Karena itu, mencari mursyid sesungguhnya bukan sekadar mencari seseorang yang mengetahui jalan. Yang lebih penting adalah menemukan bimbingan yang membuat kita semakin mampu berjalan dengan benar dengan <em>\u2018aql<\/em> yang jernih, <em>qalb<\/em> yang hidup, <em>nafs<\/em> yang terdidik, dan orientasi ruhani yang tidak terlepas dari Allah.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><p><strong>Sumber<\/strong><\/p><ul><li>Yedi Supriadi, <em>Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri<\/em>.<\/li><li>Muhammad Akhmansyah, \u201cEksistensi Guru (Mursyid) dalam Pendidikan Spiritual Perspektif Ab\u00fb H\u00e2mid al-Ghaz\u00e2l\u00ee (1058M\u20131111M),\u201d <em>Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam<\/em>, Vol. 6, No. 2, 2015, hlm. 307\u2013323.<\/li><li>Aas Asrulsani dkk., \u201cRelasi Mursyid\u2013Salik: Komunikasi Edukatif Al-Ghazali dalam <em>Ihya\u2019 \u2018Ulum Al-Din<\/em>,\u201d <em>AL-IBANAH<\/em>.<\/li><\/ul>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Ada satu persoalan yang sering luput ketika manusia berbicara tentang pencarian spiritual: apakah seseorang benar-benar sedang mencari kebenaran, atau sebenarnya sedang mencari pembenaran bagi dirinya sendiri? Pertanyaan ini menjadi penting ketika perjalanan spiritual ditempatkan dalam kerangka pembentukan jati diri. Sebab manusia tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, tetapi juga dengan keterbatasan dalam mengenali dirinya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-3357","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"Yedi Supriadi","author_link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?author=2"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/yedisupriadi.com\/?cat=11\" rel=\"category\">Article<\/a>","rttpg_excerpt":"\u00a0 Ada satu persoalan yang sering luput ketika manusia berbicara tentang pencarian spiritual: apakah seseorang benar-benar sedang mencari kebenaran, atau sebenarnya sedang mencari pembenaran bagi dirinya sendiri? Pertanyaan ini menjadi penting ketika perjalanan spiritual ditempatkan dalam kerangka pembentukan jati diri. Sebab manusia tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, tetapi juga dengan keterbatasan dalam mengenali dirinya&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3357","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3357"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3357\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3361,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3357\/revisions\/3361"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3357"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3357"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3357"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}