{"id":3274,"date":"2026-09-01T01:57:47","date_gmt":"2026-09-01T01:57:47","guid":{"rendered":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3274"},"modified":"2026-09-01T02:17:12","modified_gmt":"2026-09-01T02:17:12","slug":"dari-alam-samar-menuju-alam-fitrah-rekonstruksi-kepribadian-spiritual-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?p=3274","title":{"rendered":"Dari Alam Samar Menuju Alam Fitrah: Rekonstruksi Kepribadian Spiritual Manusia"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"3274\" class=\"elementor elementor-3274\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-22c78a5 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"22c78a5\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7176d55 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"7176d55\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>\u00a0<\/p><p>Manusia dapat menjalani hidup bertahun-tahun tanpa sungguh-sungguh mengetahui siapa dirinya. Ia dapat mengenal nama, pekerjaan, pendidikan, keluarga, bahkan berbagai peran sosial yang melekat padanya, tetapi semua itu belum tentu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: <strong>siapakah manusia di balik seluruh identitas tersebut?<\/strong><\/p><p>Persoalan jati diri karena itu tidak cukup diselesaikan dengan menambah pengetahuan tentang diri. Ada kemungkinan seseorang semakin banyak mengetahui dirinya secara psikologis, tetapi semakin jauh dari pusat keberadaannya secara spiritual. Ia mengenali perilaku, kecenderungan, kemampuan, dan kelemahannya, tetapi belum menemukan arah batin yang membuat seluruh unsur tersebut menjadi satu kesatuan.<\/p><p>Dalam <em>Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri<\/em>, saya mengembangkan gagasan mengenai tiga fase dalam proses pembentukan jati diri: <strong>alam samar, alam sadar, dan alam fitrah<\/strong>. Kerangka ini pada dasarnya bukan sekadar pembagian tahapan perkembangan kepribadian. Ia dapat dibaca lebih jauh sebagai sebuah model transformasi kesadaran: bagaimana manusia bergerak dari kehidupan yang didominasi persepsi lahiriah menuju kesadaran yang lebih utuh, hingga akhirnya menemukan kembali orientasi fitriahnya. Penelitian saya mengenai dzikir, spiritualitas, dan intuisi juga mengaitkan proses tersebut dengan perubahan kesadaran, firasat, dan intuisi dalam pembentukan jati diri. Yang penting kemudian bukan hanya memahami tiga istilah tersebut, melainkan melihat <strong>apa yang sebenarnya berubah dari satu alam ke alam berikutnya<\/strong>.<\/p><p>\u00a0<\/p><h2>Alam Samar: Ketika Diri Hidup dari Permukaan<\/h2><p>Alam samar dapat dipahami sebagai keadaan ketika manusia belum memiliki kejernihan mengenai pusat dirinya. Ia menjalani kehidupan terutama melalui apa yang dapat ditangkap oleh indra, dipikirkan oleh akal, dan dikejar oleh keinginan.<\/p><p>Dalam formulasi yang saya kembangkan, pada fase ini akal memegang dominasi yang sangat kuat. Manusia berpikir, memilih, menilai, dan bertindak berdasarkan pertimbangan kognitif. Hal tersebut bukan berarti akal harus ditolak. Persoalannya justru terletak pada <strong>ketika akal dianggap sebagai satu-satunya pintu menuju kenyataan manusia<\/strong>.<\/p><p>Di sinilah istilah <em>samar<\/em> menjadi penting. Kesamaran bukan semata-mata ketidaktahuan intelektual. Seseorang dapat berpendidikan tinggi dan tetap berada dalam alam samar apabila pengetahuan yang dimilikinya belum membawa kejernihan mengenai tujuan keberadaannya.<\/p><p>Manusia modern bahkan dapat memperlihatkan paradoks tersebut dengan sangat jelas. Ia mempunyai lebih banyak informasi, tetapi tidak selalu mempunyai lebih banyak arah. Ia mampu mengukur banyak hal di luar dirinya, tetapi kesulitan membaca gerak batinnya sendiri. Ia dapat membangun citra diri, tetapi belum tentu menemukan jati diri.<\/p><p>Alam samar sebaiknya tidak dipahami sebagai fase yang hanya berkaitan dengan tingkat kecerdasan. Ia adalah persoalan <strong>orientasi kesadaran<\/strong>. Ketika diri sepenuhnya dibentuk oleh tuntutan dunia luar, ukuran keberhasilan mudah bergeser menjadi status, pengakuan, kepemilikan, dan pencapaian. Diri kemudian menjadi sesuatu yang harus terus diproduksi di hadapan orang lain. Padahal, jati diri tidak identik dengan citra diri. Citra diri membutuhkan pengakuan. Jati diri justru menuntut kedalaman.<\/p><p>\u00a0<\/p><h2>Alam Sadar: Pertemuan Akal dan Hati<\/h2><p>Transformasi dimulai ketika manusia menyadari bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh apa yang tampak. Kesadaran semacam ini tidak berarti meninggalkan akal dan berpindah secara romantis kepada perasaan. Justru sebaliknya, alam sadar menuntut integrasi. Akal tetap bekerja, tetapi tidak lagi berdiri sendirian. Hati mulai memperoleh tempat dalam proses memahami diri dan menentukan arah kehidupan.<\/p><p>Pada tahap ini muncul pertanyaan yang sebelumnya mungkin tidak dianggap penting: <em>Mengapa saya melakukan sesuatu? Untuk apa saya hidup? Apa yang sebenarnya saya cari? Apakah keinginan saya sungguh berasal dari kedalaman diri, atau hanya merupakan hasil tekanan lingkungan dan kebiasaan? <\/em>Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan perubahan dari <strong>sekadar mengetahui diri menjadi menyadari diri<\/strong>.<\/p><p>Perbedaan ini sangat penting. Pengetahuan mengenai diri bersifat informatif, sedangkan kesadaran mengenai diri bersifat transformatif. Seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya mudah marah, misalnya, tanpa pernah sungguh menyadari akar kemarahannya. Kesadaran baru muncul ketika ia mampu mengamati dorongan tersebut, mengambil jarak darinya, dan bertanya apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.<\/p><p>Di sinilah integrasi akal dan hati menjadi penting. Akal membantu manusia membedakan. Hati membantu manusia menghayati. Akal menguji pertimbangan. Hati memberi kedalaman terhadap arah. Keduanya tidak harus ditempatkan sebagai lawan.<\/p><p>Saya melihat alam sadar sebagai ruang peralihan yang sangat menentukan karena manusia mulai mengalami dirinya bukan hanya sebagai objek yang dapat diamati, melainkan sebagai subjek yang mampu melakukan transformasi. Kesadaran semacam itu juga membantu menjelaskan posisi intuisi dalam kerangka spiritual. Intuisi tidak seharusnya dipahami sebagai setiap perasaan spontan yang muncul di dalam diri. Jika semua perasaan spontan disebut intuisi, manusia justru dapat terjebak dalam subjektivisme: keinginan pribadi dianggap sebagai petunjuk kebenaran.<\/p><p>Dalam penelitian sebelumnya, saya menghubungkan praktik spiritual dengan proses pembersihan hati dan pikiran yang kemudian dikaitkan dengan munculnya kesadaran, firasat, dan intuisi. Dari sini dapat dikembangkan sebuah prinsip penting: <strong>intuisi spiritual bukan sekadar kemampuan mengetahui sesuatu secara tiba-tiba; kualitasnya berkaitan dengan kualitas batin yang menjadi tempat munculnya pengetahuan tersebut.<\/strong> Persoalan intuisi tidak dapat dipisahkan dari persoalan transformasi diri.<\/p><p>\u00a0<\/p><h2>Alam Fitrah: Bukan Kembali ke Masa Lalu<\/h2><p>Istilah <em>fitrah<\/em> sering dipahami secara sederhana sebagai keadaan asli manusia. Pemahaman tersebut berguna, tetapi belum cukup untuk menjelaskan kedalaman konsepnya.<\/p><p>Al-Qur&#8217;an menghubungkan fitrah dengan penciptaan manusia dan agama yang lurus:<\/p><p>\u201cMaka hadapkanlah wajahmu kepada agama &#8230; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.\u201d (Q.S. al-R\u016bm 30:30). Ayat ini penting karena fitrah tidak hanya dibicarakan sebagai kondisi psikologis. Ia ditempatkan dalam hubungan dengan <em>d\u012bn<\/em> dan dengan tindakan manusia untuk mengarahkan wajahnya kepada Allah.<\/p><p>Alam fitrah dalam kerangka yang saya kembangkan tidak tepat jika dipahami sebagai sekadar kembali kepada keadaan manusia sebelum mengalami persoalan kehidupan. Alam fitrah lebih tepat dipahami sebagai <strong>keadaan keselarasan kembali antara manusia, tujuan hidup, dan orientasi ketuhanannya<\/strong>.<\/p><p>Jika alam fitrah hanya dipahami sebagai &#8220;menjadi diri sendiri&#8221;, maka konsep tersebut masih dapat terjebak dalam individualisme modern. Seseorang dapat berkata bahwa dirinya sedang menjadi dirinya sendiri, padahal yang sedang diwujudkan hanyalah keinginan, ego, atau preferensi pribadi.<\/p><p>Fitrah memiliki horizon yang lebih tinggi daripada sekadar autentisitas psikologis. Seseorang dapat sangat autentik dalam mengikuti egonya. Sebaliknya, perjalanan menuju fitrah menuntut pemurnian orientasi diri agar kehidupan tidak lagi berpusat pada ego sebagai tujuan akhir. Alam fitrah merupakan persoalan <strong>arah eksistensial<\/strong>, bukan hanya kondisi emosional.<\/p><p><strong>\u00a0<\/strong><\/p><h2>Dari Kepribadian ke Transformasi Kesadaran<\/h2><p>Di sinilah tiga alam tersebut dapat direkonstruksi sebagai model kepribadian spiritual.<\/p><ol><li>Alam samar menggambarkan manusia yang terutama <strong>berfungsi<\/strong>.<\/li><li>Alam sadar menggambarkan manusia yang mulai <strong>mengamati dan memahami<\/strong>.<\/li><li>Alam fitrah menggambarkan manusia yang mulai <strong>menyelaraskan dirinya dengan tujuan keberadaan<\/strong>.<\/li><\/ol><p>Jika dibaca seperti ini, ketiganya bukan kotak-kotak kepribadian yang bersifat permanen. Seseorang dapat mengalami ketiga keadaan tersebut secara berulang. Bahkan dalam satu hari, seseorang dapat bergerak dari kesadaran yang jernih menuju kesamaran ketika dikuasai amarah, keserakahan, ketakutan, atau ambisi. Maka transformasi spiritual bukanlah pencapaian yang cukup dinyatakan sekali, Ia merupakan proses pemeliharaan kesadaran. Perspektif ini memperluas pemahaman tentang kepribadian. Kepribadian tidak hanya merupakan kumpulan sifat psikologis yang relatif stabil. Dalam perspektif spiritual, kepribadian juga memiliki dimensi arah: <strong>ke mana seluruh kemampuan manusia diarahkan?<\/strong><\/p><p>Kecerdasan dapat digunakan untuk kebaikan atau manipulasi. Keberanian dapat menjadi keberanian moral atau agresivitas. Ambisi dapat menjadi dorongan pengabdian atau keserakahan. Bahkan pengetahuan agama dapat menjadi sarana penyucian diri atau justru sumber kesombongan. Yang menentukan kualitas kepribadian bukan hanya apa yang dimiliki manusia, tetapi <strong>pusat kesadaran yang mengarahkan apa yang dimilikinya<\/strong>.<\/p><p>Pada titik ini, konsep <em>tazkiyah al-nafs<\/em> menjadi relevan sebagai kemungkinan pengembangan dari model tiga alam tersebut. Jika alam samar menunjukkan dominasi orientasi yang belum jernih, maka perjalanan menuju alam fitrah memerlukan proses pemurnian. Bukan pemusnahan kepribadian, melainkan penataan kembali unsur-unsur diri agar tidak saling bertentangan.<\/p><p>\u00a0<\/p><h2>Alam Fitrah sebagai Integrasi, Bukan Penghapusan<\/h2><p>Ada kecenderungan untuk memahami spiritualitas sebagai usaha meninggalkan dunia, meninggalkan akal, atau menghilangkan kepribadian. Kerangka tiga alam justru dapat diarahkan pada kesimpulan yang berbeda.<\/p><ol><li>Tujuan transformasi bukan membuat manusia menjadi kurang manusiawi.<\/li><li>Tujuannya adalah membuat berbagai dimensi kemanusiaan menemukan keteraturan.<\/li><li>Akal tidak harus dimatikan. Hati tidak harus menggantikan akal. Kehidupan sosial tidak harus ditinggalkan. Dunia tidak harus dipandang sebagai musuh spiritualitas.<\/li><li>Yang perlu berubah adalah pusat orientasinya.<\/li><\/ol><p>Dalam kerangka ini, spiritualitas tidak menghasilkan manusia yang melarikan diri dari kehidupan, tetapi manusia yang mampu menempatkan kehidupan pada proporsi yang benar. Hal ini sekaligus memberikan batas terhadap pemahaman intuitif yang terlalu bebas. Intuisi tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan akal, pengetahuan, etika, atau tanggung jawab. Semakin tinggi klaim spiritual seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk menguji dampaknya terhadap perilaku. Sebab, pengalaman batin yang tidak menghasilkan perubahan etis dapat dengan mudah berubah menjadi ilusi spiritual.<\/p><p>Ukuran transformasi tidak cukup dicari dalam pengalaman subjektif. Ia juga harus terlihat dalam kualitas kehidupan: kejernihan, pengendalian diri, kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan orientasi pengabdian.<\/p><p>Di sini gagasan tentang lima cahaya yang saya kembangkan dalam pembahasan psikologi kepribadian Islami\u2014cahaya hati, jiwa, akal, ucapan, dan perilaku\u2014dapat dibaca sebagai perluasan penting: transformasi batin pada akhirnya harus memperoleh bentuk lahiriah. Alam fitrah bukan sekadar &#8220;merasa dekat dengan Tuhan&#8221;. Ia menuntut agar hubungan vertikal dengan Tuhan membentuk kehidupan horizontal manusia.<\/p><p>\u00a0<\/p><h2>Rekonstruksi Model Kepribadian Spiritual<\/h2><p>Dari seluruh pembahasan tersebut, saya melihat bahwa model alam samar, alam sadar, dan alam fitrah dapat dikembangkan dari sekadar model tahapan menjadi <strong>model dinamika kesadaran manusia<\/strong>.<\/p><ol><li>Alam samar menunjukkan keterpecahan orientasi.<\/li><li>Alam sadar menunjukkan munculnya kemampuan reflektif.<\/li><li>Alam fitrah menunjukkan integrasi orientasi.<\/li><\/ol><p>Pergerakannya bukan sekadar dari &#8220;tidak tahu&#8221; menjadi &#8220;tahu&#8221;, tetapi dari <strong>hidup secara reaktif menuju hidup secara sadar, lalu menuju hidup secara selaras<\/strong>. Inilah yang menurut saya membuat model tersebut relevan untuk pembicaraan tentang jati diri manusia kontemporer. Krisis jati diri tidak selalu terjadi karena manusia tidak memiliki identitas. Justru sebaliknya, manusia modern memiliki terlalu banyak identitas: identitas profesi, sosial, digital, ekonomi, budaya, dan berbagai citra yang terus dibangun.<\/p><p>Masalahnya adalah belum tentu ada pusat yang mengintegrasikan semuanya. Seseorang dapat menjadi banyak hal sekaligus dan tetap tidak mengetahui siapa dirinya. Pencarian jati diri tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan, &#8220;Siapa saya?&#8221; Pertanyaan yang lebih mendalam adalah: <strong><em>&#8220;Dari pusat kesadaran mana saya menjalani kehidupan?&#8221;<\/em><\/strong><\/p><p>Pertanyaan tersebut menggeser perhatian dari identitas menuju orientasi, dari citra menuju kedalaman, dan dari pengetahuan tentang diri menuju transformasi diri.<\/p><p>Jika alam samar adalah keadaan ketika manusia kehilangan pusat, alam sadar adalah saat ia mulai mencarinya, maka alam fitrah adalah kemungkinan ketika pusat tersebut ditemukan kembali dalam hubungan yang benar dengan Allah.<\/p><p>Pada akhirnya, jati diri bukan sesuatu yang sekadar ditemukan seperti benda yang tersembunyi di dalam diri. Jati diri juga dibentuk melalui perjalanan kesadaran, penyucian, penghayatan, dan pengabdian.<\/p><p>Manusia menjadi dirinya bukan ketika seluruh keinginannya terpenuhi, melainkan ketika kehidupan batinnya semakin selaras dengan kebenaran yang menjadi tujuan keberadaannya.<\/p><p>Dari sinilah alam fitrah dapat dipahami bukan sebagai akhir perjalanan dalam arti berhentinya pencarian, tetapi sebagai <strong>arah tertinggi perjalanan manusia<\/strong>: keadaan ketika akal tidak kehilangan cahaya hati, hati tidak kehilangan bimbingan kebenaran, dan kehidupan lahir tidak terpisah dari kesadaran batin. Jati diri yang demikian bukan sekadar identitas. Ia adalah keselarasan antara siapa manusia, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa seluruh perjalanan hidup itu diarahkan.<\/p><p>\u00a0<\/p><h2>Sumber<\/h2><ul><li>Yedi Supriadi, <em>Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri<\/em>, Cirebon: CV Iman Rijalullah, 2021. Informasi bibliografis tersebut juga tercantum dalam dokumen karya Yedi Supriadi yang tersedia secara daring.<\/li><li>Yedi Supriadi, \u201cDzikir, Spiritualitas dan Intuisi: Studi tentang Pembentukan Jati Diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka,\u201d <em>Irsyad: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam<\/em>, Vol. 8, No. 3, 2020.<\/li><li>Al-Qur&#8217;an, Q.S. al-R\u016bm 30:30.<\/li><li>Kementerian Agama RI, pembahasan mengenai fitrah penciptaan manusia dan Q.S. al-R\u016bm 30:30.<\/li><\/ul>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Manusia dapat menjalani hidup bertahun-tahun tanpa sungguh-sungguh mengetahui siapa dirinya. Ia dapat mengenal nama, pekerjaan, pendidikan, keluarga, bahkan berbagai peran sosial yang melekat padanya, tetapi semua itu belum tentu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah manusia di balik seluruh identitas tersebut? Persoalan jati diri karena itu tidak cukup diselesaikan dengan menambah pengetahuan tentang diri. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-3274","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"Yedi Supriadi","author_link":"https:\/\/yedisupriadi.com\/?author=2"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/yedisupriadi.com\/?cat=11\" rel=\"category\">Article<\/a>","rttpg_excerpt":"\u00a0 Manusia dapat menjalani hidup bertahun-tahun tanpa sungguh-sungguh mengetahui siapa dirinya. Ia dapat mengenal nama, pekerjaan, pendidikan, keluarga, bahkan berbagai peran sosial yang melekat padanya, tetapi semua itu belum tentu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah manusia di balik seluruh identitas tersebut? Persoalan jati diri karena itu tidak cukup diselesaikan dengan menambah pengetahuan tentang diri.&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3274","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3274"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3274\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3278,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3274\/revisions\/3278"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3274"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3274"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yedisupriadi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3274"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}