FILSAfAT BERPIKIR
Manusia modern berada di puncak pencapaian sains dan teknologi, namun sekaligus terperosok ke dalam krisis makna terdalam. Di tengah banjir informasi dan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) yang kian mendominasi, rasionalisme murni dan empirisme sekuler justru menyisakan ruang hampa: sebuah titik buta epistemologis (epistemic blind spot) yang memisahkan kecerdasan dari spiritualitas, serta memisahkan ilmu dari Sang Sumber Kebenaran.
Filsafat Berpikir Tauhidik (Tauhidic Philosophy of Thinking), lahir dari kegelisahan intelektual tersebut. Buku yang menjadi Magnum Opus dari Syekh Dr. Yedi Supriadi ini tidak berhenti sebagai kajian tasawuf deskriptif, melainkan sebuah ikhtiar ilmiah yang melahirkan Grand Theory akademik baru. Teori ini memposisikan Tauhid bukan lagi sebatas doktrin teologis murni, melainkan sebagai poros utama, asas tertinggi, dan sistem kerja seluruh instrumen kognitif manusia. Paradigma ini menegaskan bahwa pengetahuan yang utuh mensyaratkan keterlibatan total seluruh dimensi kesadaran: indera sebagai gerbang data empiris, akal sebagai sarana analisis logis, jiwa yang terjaga dari bias hawa nafsu, hati yang jernih sebagai pusat penerimaan makna, serta ruh yang terbuka terhadap cahaya petunjuk Ilahi, semuanya berjalan selaras di bawah bimbingan wahyu.
Karya ini merupakan ajakan untuk membangun kembali cara berpikir yang menyatukan ilmu, iman, dan amal; yang menghubungkan dunia fisik dan dunia metafisik; serta yang menempatkan pencarian ilmu sebagai jalan menuju hikmah, kemaslahatan, dan keridaan Allah SWT. Harapannya, Filsafat Berpikir Tauhidik dapat menjadi ruang dialog ilmiah, inspirasi intelektual, dan pijakan konseptual bagi akademisi, peneliti, pendidik, mahasiswa, pemimpin, dan siapa pun yang meyakini bahwa kemajuan peradaban memerlukan keselarasan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab moral.