PSIKOLOGI TRANSPERSONAL ISLAMI
Syekh Dr. Yedi Supriadi sebagai salah satu pemikir kontemporer dalam bidang ini menekankan bahwa kebermaknaan hidup merupakan poros utama dari kesehatan mental yang sejati. Hidup yang bermakna bukan sekadar hasil dari pemenuhan kebutuhan psikologis, tetapi buah dari proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan ma’rifatullah (pengenalan kepada Allah). Proses ini membawa individu dari kegelapan jiwa menuju cahaya kesadaran tauhidi, di mana realitas dipahami sebagai satu kesatuan yang terhubung dengan kehendak dan kasih sayang Ilahi.
Dalam konteks ini, Syekh Dr. Yedi Supriadi dengan tajam menyatakan, “Manusia modern mengalami luka jiwa karena tercerabut dari akar ketuhanannya.” Pernyataan ini bukan sekadar metafora, melainkan diagnosis ontologis yang mendalam. Luka jiwa ini dipahami sebagai konsekuensi langsung dari terputusnya koneksi fundamental manusia dengan al-Haqq (Kebenaran Mutlak), Sang Pencipta. Ini merefleksikan prinsip dalam Islam bahwa, fitrah manusia adalah mengakui dan berpasrah kepada Allah dan menjauh dari fitrah ini akan menimbulkan penderitaan eksistensial dan psikologis. Dalam kerangka Psikologi Transpersonal Islami, sebagaimana dikembangkan oleh Syekh Dr. Yedi Supriadi dan dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya, culminating point dari seluruh intervensi, latihan, dan pemahaman teoretis adalah terwujudnya kondisi Insān Kāmil.
Akhirnya, buku ini menegaskan bahwa Psikologi Transpersonal Islami bukan hanya alternatif atas pendekatan psikologi Barat, tetapi merupakan sebuah paradigma yang menjawab kebutuhan mendesak akan ilmu yang mampu menjembatani antara sains, makna, dan spiritualitas. Sebuah jalan ilmiah menuju kehidupan yang sehat, sadar, dan bermakna.