KONTEMPLASI (BERSATU DENGAN TUHAN)
Abraham Maslow, dalam teori hierarki kebutuhannya, memperkenalkan dua jenis pengalaman psikologis yang signifikan: pengalaman puncak (Peak Experience) dan pengalaman dataran tinggi (Plateau Experience). Pengalaman puncak merujuk pada momen-momen transendental yang memberikan pemahaman mendalam tentang eksistensi dan tujuan hidup, sedangkan pengalaman dataran tinggi menggambarkan kondisi stabilitas dan ketenangan dalam menjalani kehidupan yang berkelanjutan. Kedua pengalaman ini mencerminkan pencapaian tertinggi dalam pengembangan diri individu, yang sejalan dengan konsep aktualisasi diri dalam teori Maslow. Di sisi lain, terdapat berbagai konsep yang menjelaskan hubungan antara Tuhan dan makhluk-Nya yang juga berfokus pada pencapaian pencerahan spiritual. Konsep Ittihad yang dikemukakan oleh Abu Yazid Al-Bustami menggambarkan penyatuan yang mutlak antara manusia dengan Tuhan, yang menghilangkan perbedaan antara keduanya. Al-Hallaj dengan konsep Hulul mengajukan gagasan bahwa Tuhan hadir dalam diri individu, menciptakan hubungan yang lebih langsung dan intim antara keduanya. Konsep Fana dari Al-Ghazali menekankan pentingnya penghilangan ego untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi akan Tuhan, sementara Ibnu Arabi dengan Wahdatul Wujud menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta merupakan manifestasi dari Tuhan, yang menunjukkan kesatuan hakiki antara Tuhan dan ciptaan-Nya.
Syekh Dr. Yedi Supriadi (penulis-red), dalam karyanya Kontemplasi (Bersatu dengan Tuhan), mengintegrasikan konsep-konsep spiritual dengan teori psikologi Maslow dan pemikiran imam terdahulu. Penulis, menyimpulkan bahwa individu yang bersatu dengan Tuhan adalah individu yang telah mencapai tingkat tertinggi dari eksistensi spiritual, dan merupakan salah satu indikator hamba Allah yang diridhoi Tuhan, yang menyadari akan dirinya sebagai Percikan Nur Tuhan (Nur Ilahiah-Nya).