Bighairi Hisab

Manusia hadir ke dunia tanpa membawa apa-apa, lalu menjalani kehidupan dengan nama, jati diri, keluarga, ilmu, harta, pasangan, pekerjaan, dan takdir yang tidak selalu dipahaminya. Di tengah perjalanan itu muncul pertanyaan mendasar, siapakah aku, apa hakku, apa amanahku, dan untuk apa hidup ini dijalani? Allah menciptakan manusia di atas fitrah-Nya, tetapi perjalanan hidup dapat menjauhkannya dari kesadaran tersebut. Karena itu, manusia membutuhkan muhasabah, yakni menghisab diri sebelum datangnya hisab Allah. Sebagaimana ungkapan masyhur dari ‘Umar bin al-Khattab: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang.” Muhasabah bukan sekadar menghitung kesalahan, melainkan membaca kembali seluruh perjalanan hidup, Nabi mengingatkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, ilmunya, hartanya, dan tubuhnya.


Dalam pemikiran Syekh Dr. Yedi Supriadi, proses mengenali diri berkaitan dengan Nama Penentu Takdir: nama, makna, jati diri, potensi, amanah, dan perjalanan hidup dapat menjadi jalan memahami diri dalam medan takdir Allah. Namun, nama bukan kekuatan yang menentukan takdir secara mandiri; Allah-lah pemilik ilmu dan penentu segala ketetapan.