Dzikir Kematian

Di tengah kemajuan teknologi, kemakmuran material, dan percepatan peradaban, manusia modern justru menghadapi krisis yang semakin dalam: kehilangan makna hidup, kecemasan eksistensial, dan keterasingan spiritual. Buku ini berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: mengapa semakin maju peradaban, semakin rapuh jiwa manusia?


Syekh Dr. Yedi Supriadi menawarkan jawaban yang berani dan mendalam. Akar krisis modern terletak pada hilangnya kesadaran terhadap hakikat kematian. Ketika kematian hanya dipandang sebagai akhir biologis yang menakutkan, manusia kehilangan orientasi transendental dan terjebak dalam pemujaan terhadap ego, materi, serta ilusi keabadian duniawi.


Melalui gagasan orisinal Teori Tazkiyatul Wujud, buku ini mengajak pembaca melampaui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) menuju pemurnian eksistensi. Sebuah perjalanan spiritual radikal yang ditempuh melalui tiga tahap transformasi eksistensial:
• Idrak al-Maut : Kebangkitan kesadaran mendalam akan kematian secara real-time.
• Tahthim al-Ana : Penghancuran belenggu ego semu dan berhala modernitas.
• Insan Ruhani : Lahirnya manusia yang merdeka secara spiritual di bawah kedaulatan Ilahi.


Lebih dari sekadar kajian eskatologi pasif, karya ini menawarkan paradigma baru bagi lahirnya Peradaban Profetik (Prophetic Civilization)—sebuah tatanan sosiologi, politik, dan ekonomi yang dibangun di atas kesadaran akan kefanaan, keadilan transendental, dan akuntabilitas eskatologis.
“Kematian tidak lagi dipahami sebagai akhir kehidupan, melainkan sebagai jendela penyingkapan tabir epistemis (Kashf al-Ghitā’) yang membimbing manusia menuju hakikat dirinya dan keindahan Liqa’illah.”


Buku ini adalah undangan agung untuk meniti jalan para arifin: “Mutu qabla an tamutu” (matilah sebelum engkau mati), agar setiap jengkal kehidupan di dunia dijalani dengan kesadaran penuh, kebijaksanaan tertinggi, dan kemuliaan yang sejati.