Ada manusia yang menjalani hidup dengan banyak pengetahuan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal dirinya. Ia dapat membaca dunia dengan akalnya, mengambil keputusan berdasarkan pengalaman, bahkan mencapai keberhasilan dalam kehidupan sosial, tetapi tetap merasakan adanya sesuatu yang belum selesai di dalam dirinya. Persoalannya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan. Bisa jadi yang belum berkembang adalah kesadarannya.
Di sinilah persoalan jati diri menjadi lebih dalam daripada sekadar pertanyaan, “Siapa saya?” Jati diri bukan hanya identitas sosial, pekerjaan, status, karakter, atau kumpulan pengalaman hidup. Jati diri menyangkut arah terdalam dari keberadaan manusia: dari mana kesadaran bergerak, apa yang menjadi pusat kehidupannya, dan kepada siapa orientasi batinnya diarahkan.
Dalam Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, saya mengembangkan gagasan bahwa pembentukan jati diri berlangsung melalui tiga fase kepribadian: alam samar, alam sadar, dan alam fitrah. Kerangka ini pada mulanya membantu menjelaskan perjalanan manusia dari kesadaran yang masih terbatas menuju kesadaran yang lebih utuh. Namun, jika gagasan tersebut dibaca lebih jauh, tiga fase itu dapat dipahami bukan sekadar sebagai tahapan psikologis, melainkan sebagai model transformasi kesadaran.
Persoalan pentingnya kemudian berubah: apa yang sesungguhnya berubah ketika manusia bergerak dari alam samar menuju alam fitrah? Jawabannya tidak cukup dengan mengatakan bahwa manusia menjadi lebih sadar. Yang berubah adalah pusat orientasi dirinya.
Alam Samar: Ketika Diri Hidup dari Permukaan
Alam samar dapat dipahami sebagai keadaan ketika manusia menjalani kehidupannya terutama melalui kemampuan lahiriah—indra, pengalaman, dorongan, kebiasaan, dan akal yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Dalam kerangka yang saya kembangkan, alam samar bukan berarti manusia tidak memiliki kesadaran sama sekali. Ia tetap berpikir, memilih, merencanakan, dan bertindak. Justru di sinilah persoalannya: manusia dapat menjadi sangat aktif secara mental, tetapi belum tentu sadar terhadap sumber terdalam dari tindakan-tindakannya.
Akal pada fase ini bekerja terutama untuk membaca dunia luar. Ia bertanya tentang bagaimana memperoleh sesuatu, bagaimana mencapai tujuan, bagaimana menghindari kerugian, dan bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan. Pengetahuan berkembang, tetapi pertanyaan mengenai makna keberadaan dapat tetap tertinggal. Karena itu, “samar” tidak identik dengan kebodohan. Seseorang dapat berpendidikan tinggi dan tetap berada dalam kesamaran apabila pengetahuannya tidak membawa kepada pengenalan diri.
Kesamaran terjadi ketika manusia mengira bahwa apa yang tampak di permukaan sudah mewakili seluruh kenyataan dirinya. Di sinilah saya melihat pentingnya membedakan antara kemampuan berpikir dan kedalaman kesadaran. Akal dapat membuat manusia semakin cakap, tetapi kecakapan belum dengan sendirinya menghasilkan kedewasaan batin. Jika akal hanya digunakan untuk memperkuat keinginan diri, manusia mungkin menjadi semakin pintar tanpa menjadi semakin jernih.
Alam Sadar: Ketika Akal Mulai Berdialog dengan Batin
Transformasi dimulai ketika manusia mulai menyadari keterbatasan cara hidup yang sebelumnya dianggap cukup.
Pada fase alam sadar, manusia tidak meninggalkan akal. Sebaliknya, akal mulai ditempatkan dalam hubungan yang lebih luas dengan hati. Dalam materi yang saya kembangkan sebelumnya, alam sadar merupakan fase ketika pencarian jati diri mulai melibatkan integrasi antara dimensi kognitif dan batiniah. Kerangka tiga fase ini juga telah saya gunakan dalam pembahasan mengenai dzikir, spiritualitas, intuisi, dan pembentukan jati diri.
Perubahan tersebut penting karena kesadaran tidak lagi diarahkan semata-mata kepada objek di luar diri. Manusia mulai mengamati dirinya sendiri.
Ia mulai bertanya:
Mengapa saya menginginkan sesuatu?
Mengapa saya mudah marah?
Mengapa keberhasilan tertentu tidak membuat saya tenang?
Mengapa saya mengetahui sesuatu secara rasional tetapi tetap melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menandai pergeseran dari sekadar mengetahui menuju menyadari. Di sini terdapat sebuah perbedaan mendasar. Pengetahuan dapat berada di dalam pikiran tanpa mengubah manusia. Kesadaran, sebaliknya, mulai menyentuh cara manusia mengalami dirinya sendiri. Alam sadar dapat dipandang sebagai wilayah peralihan. Manusia belum sepenuhnya keluar dari orientasi duniawi, tetapi ia mulai menyadari bahwa dirinya tidak dapat dijelaskan hanya melalui dunia yang tampak.
Pada fase ini, hati tidak seharusnya dipahami sebagai lawan akal. Keduanya justru perlu ditempatkan dalam hubungan yang saling melengkapi. Akal memberikan kemampuan untuk membedakan, menimbang, dan menguji; hati menjadi ruang batin tempat manusia mengalami makna, keheningan, kecenderungan moral, dan orientasi spiritual.
Integrasi tersebut juga membantu menjelaskan mengapa intuisi tidak tepat dipahami sebagai pengganti akal. Intuisi yang sehat bukan alasan untuk berhenti berpikir. Ia justru membutuhkan kejernihan batin agar tidak tercampur dengan keinginan, prasangka, ketakutan, atau fantasi pribadi. Transformasi kesadaran bukan gerakan dari akal menuju antiakal, melainkan dari akal yang berdiri sendiri menuju kesadaran yang lebih terintegrasi.
Alam Fitrah: Bukan Kembali ke Masa Lalu, tetapi Kembali kepada Asal Orientasi
Istilah fitrah mempunyai kedudukan penting dalam pandangan Islam mengenai manusia. Al-Qur’an menyebut fitrat Allāh dalam Q.S. al-Rūm 30:30, dalam konteks perintah untuk menghadapkan diri secara lurus kepada agama dan menyebut penciptaan manusia menurut fitrah tersebut. Ayat ini memberi dasar penting bagi pengembangan konsep alam fitrah: fitrah tidak sekadar berarti sifat psikologis bawaan atau kecenderungan alami manusia. Ia berkaitan dengan hubungan antara manusia, penciptaannya, dan orientasi penghambaan kepada Allah.
Kembali kepada fitrah tidak berarti kembali menjadi manusia yang polos seperti masa kanak-kanak. Transformasi menuju alam fitrah justru merupakan proses pendewasaan kesadaran. Manusia telah melewati pengalaman, konflik, kegagalan, pengetahuan, dan pergulatan batin. Semua itu tidak harus dibuang. Yang berubah adalah bagaimana pengalaman tersebut ditempatkan dalam hubungan dengan Tuhan dan hakikat dirinya.
Di sinilah konsep fitrah menjadi lebih menarik. Fitrah bukan sekadar titik awal manusia; dalam perjalanan spiritual, ia juga dapat menjadi orientasi kepulangan.
Manusia bergerak dari keadaan ketika dirinya dikuasai oleh berbagai dorongan dan identifikasi, menuju keadaan ketika pusat dirinya semakin selaras dengan orientasi ketuhanan. Maka, alam fitrah dapat dibaca sebagai keadaan ketika manusia tidak lagi menjadikan ego sebagai pusat absolut kehidupannya.
Transformasi Kesadaran Bukan Sekadar Perubahan Pengetahuan
Jika tiga fase tersebut dibaca sebagai model transformasi, terdapat satu hal yang perlu diperjelas: perubahan kesadaran tidak sama dengan penambahan informasi. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang agama tetapi belum mengalami transformasi spiritual. Ia dapat memahami konsep tentang kesabaran tetapi tetap dikuasai kemarahan. Ia dapat mengetahui pentingnya keikhlasan tetapi masih menjadikan pengakuan manusia sebagai sumber utama harga dirinya. Pengetahuan berada pada tingkat tertentu; transformasi menyentuh struktur orientasi diri.
Dalam penelitian saya tentang dzikir, spiritualitas, dan intuisi, praktik spiritual ditempatkan dalam proses yang berkaitan dengan pembersihan hati dan pikiran, pembangunan kesadaran, hingga munculnya firasat dan intuisi dalam proses pembentukan jati diri. Pembacaan ini membuka kemungkinan untuk memahami dzikir bukan hanya sebagai aktivitas verbal atau ritual pengulangan lafaz. Dzikir dapat dilihat sebagai latihan untuk menggeser pusat perhatian manusia: dari keterpecahan batin menuju kesadaran akan kehadiran Allah.
Dalam kerangka tersebut, transformasi spiritual tidak terjadi secara instan. Ia merupakan proses pembentukan kembali hubungan manusia dengan dirinya, dengan sesama, dengan dunia, dan terutama dengan Tuhan. Ukuran transformasi tidak cukup dicari dalam pengalaman batin yang luar biasa. Ukurannya harus terlihat dalam kehidupan.
Apakah manusia menjadi lebih jernih dalam berpikir?
Apakah ia lebih mampu mengendalikan dorongan dirinya?
Apakah ucapannya menjadi lebih bertanggung jawab?
Apakah tindakannya semakin selaras dengan nilai yang diyakininya?
Apakah hubungannya dengan manusia lain menjadi lebih manusiawi?
Jika pengalaman spiritual tidak mengubah cara seseorang menjalani kehidupan, maka pengalaman tersebut perlu terus diuji dan direnungkan.
Dari Kesadaran Menuju Integrasi Diri
Pada titik ini, model tiga fase dapat dikembangkan lebih jauh. Saya melihat bahwa perpindahan dari alam samar menuju alam fitrah bukan terutama perpindahan dari satu “tempat batin” ke tempat lain. Ia adalah perubahan struktur hubungan antara berbagai dimensi manusia.
Pada alam samar, dimensi-dimensi tersebut cenderung berjalan tanpa integrasi. Akal dapat mengejar kepentingannya sendiri, keinginan bergerak berdasarkan dorongan, hati tertutup oleh berbagai kepentingan, sementara kehidupan spiritual berada di pinggir kesadaran.
Pada alam sadar, manusia mulai mengenali keterpisahan tersebut. Ia mulai melihat konflik antara apa yang diketahui akal dan apa yang diinginkan nafs; antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan; antara citra diri dan keadaan batin yang sebenarnya.
Kesadaran terhadap konflik itu sendiri sudah merupakan tahap penting.
Namun, alam fitrah menuntut sesuatu yang lebih jauh: integrasi.
Dalam kerangka yang saya kembangkan, pencapaian fase ini berkaitan dengan munculnya keselarasan antara hati, jiwa, akal, ucapan, dan perilaku. Pada publikasi lain di lingkungan karya saya, integrasi tersebut dirumuskan melalui lima cahaya ruhani: Nūr al-Qalb, Nūr al-Nafs, Nūr al-‘Aql, Nūr al-Qawl, dan Nūr al-Af‘āl.
Saya melihat konsep tersebut dapat dikembangkan sebagai prinsip bahwa jati diri yang matang bukanlah diri yang hanya “menemukan siapa dirinya”, tetapi diri yang mampu menyatukan apa yang diyakini, dipikirkan, dirasakan, diucapkan, dan dilakukan.
Di sinilah persoalan jati diri bergerak dari pertanyaan identitas menuju persoalan integritas. Manusia bukan hanya perlu mengenali dirinya. Ia perlu menjadi utuh.
Fitrah sebagai Paradigma Pembentukan Jati Diri
Jika jati diri dipahami hanya sebagai konstruksi psikologis atau sosial, maka pembentukannya terutama akan dikaitkan dengan pengalaman, lingkungan, pendidikan, relasi sosial, dan proses interpretasi diri. Semua unsur itu memang penting. Tetapi perspektif spiritual menambahkan satu dimensi yang tidak dapat direduksi kepadanya: orientasi transendental manusia.
Dalam pandangan ini, manusia bukan sekadar makhluk yang membentuk identitasnya sendiri. Ia juga makhluk yang menerima kehidupan sebagai amanah dan memiliki orientasi kepada Tuhan. Krisis jati diri tidak selalu dapat diselesaikan dengan membuat seseorang semakin mengenal preferensi, kemampuan, atau citra dirinya. Ada kemungkinan bahwa seseorang justru semakin mengenal dirinya sebagai ego, tetapi semakin jauh dari fitrahnya.
Dari sinilah model alam samar, alam sadar, dan alam fitrah dapat dikembangkan menjadi sebuah paradigma.
- Alam samar menggambarkan kesadaran yang belum mampu melihat kedalaman dirinya.
- Alam sadar menggambarkan kesadaran yang mulai mengamati, mempertanyakan, dan mengintegrasikan dimensi lahir dan batin.
- Alam fitrah menggambarkan kesadaran yang menemukan kembali orientasi terdalam keberadaannya kepada Allah dan mewujudkannya dalam kehidupan.
Dengan pembacaan seperti ini, perjalanan spiritual bukan pelarian dari kehidupan. Justru sebaliknya. Semakin dalam manusia bergerak menuju fitrah, semakin besar tuntutan agar kesadaran itu hadir dalam perilaku nyata. Jati diri akhirnya tidak berhenti pada pengalaman “saya telah menemukan diri saya”. Ia mencapai kedalaman lain: saya memahami untuk apa diri ini ada, kepada siapa ia kembali, dan bagaimana keberadaannya harus diwujudkan.
Penutup: Jalan Pulang Kesadaran
Manusia modern memiliki banyak sarana untuk mengenali dunia, tetapi belum tentu memiliki cukup ruang untuk mengenali dirinya. Informasi bertambah, pilihan bertambah, identitas sosial bertambah, tetapi kedalaman kesadaran tidak otomatis bertambah. Perjalanan dari alam samar menuju alam fitrah dapat dipahami sebagai jalan pulang kesadaran.
Bukan pulang kepada masa lalu.
Bukan pula melarikan diri dari dunia.
Ia adalah perjalanan dari diri yang hidup secara reaktif menuju diri yang sadar; dari kesadaran yang terpecah menuju kesadaran yang terintegrasi; dari ego sebagai pusat menuju Allah sebagai orientasi tertinggi.
Di sepanjang perjalanan itu, akal tidak dibuang, tetapi dijernihkan. Hati tidak dipertentangkan dengan pengetahuan, tetapi dihidupkan. Intuisi tidak diposisikan sebagai pengganti nalar, tetapi ditempatkan dalam disiplin kesadaran spiritual. Dan pengalaman hidup tidak ditolak, melainkan diolah menjadi jalan pengenalan diri. Pembentukan jati diri sesungguhnya bukan pekerjaan sekali jadi. Ia merupakan proses transformasi yang terus berlangsung.
Manusia dapat kembali berada dalam kesamaran ketika kesadarannya dikuasai oleh ego. Ia dapat kembali kepada kesadaran ketika mulai mengoreksi orientasinya. Dan ia dapat mendekati fitrah ketika seluruh kehidupannya semakin menemukan keselarasan dengan tujuan penciptaannya, di situlah makna terdalam perjalanan manusia: bukan sekadar menemukan siapa dirinya, melainkan menemukan arah kepulangan dirinya.
Sumber
- Yedi Supriadi, Spiritualitas dan Intuisi dalam Pembentukan Jati Diri, Cirebon: Iman Rijalullah, 2021. Informasi bibliografis tersebut tercantum dalam sumber akademik yang memuat rujukan karya ini.
- Yedi Supriadi, “Dzikir, Spiritualitas dan Intuisi: Studi tentang Pembentukan Jati Diri di Majelis Dzikir Rijalullah Majalengka,” Irsyad: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam, Vol. 8 No. 3 (2020).
- Al-Qur’an, Q.S. al-Rūm 30:30.